TIMIKA, CARTENZNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika terus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya lokal. Melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, Pemkab menggelar pengkajian cerita rakyat Suku Amungme dan Suku Komoro di Distrik Kuala Kencana pada 27–28 Juli 2026 sebagai langkah mendokumentasikan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan tersebut menghadirkan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika Elisabet Cenawatin, Sekretaris Dinas Daniel Orun, Kepala Distrik Kuala Kencana Manase Omaleng, tim ahli Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Papua, narasumber Cahya Putra, Windy Hapsari, dan Dinar Timothy, serta para tetua adat, tokoh masyarakat, pegiat budaya, dan budayawan Suku Amungme maupun Suku Komoro.
Dalam pengkajian ini, pemerintah mendalami dua cerita rakyat yang telah masuk dalam Daftar Pokok Kebudayaan (Dapobud) Kabupaten Mimika, yakni Asal Usul Keluarga Limang dari Suku Amungme dan Tete Mapuru dari Suku Komoro. Proses pengkajian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para tetua adat serta dokumentasi video guna memastikan keaslian nilai, makna, dan pesan yang terkandung dalam setiap cerita.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Mimika, Elisabet Cenawatin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal.
Menurutnya, cerita rakyat bukan sekadar kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi identitas masyarakat adat yang harus terus dilestarikan.
“Langkah ini sangat monumental untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya yang tak ternilai harganya. Kedua cerita ini sudah masuk dalam Daftar Pokok Kebudayaan Kabupaten Mimika, sehingga tahun ini kami mendalaminya lebih lanjut bersama tim ahli dari Provinsi Papua,” ujar Elisabet.
Sebagai putri asli Papua, Elisabet mengaku bangga atas kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Mimika. Ia menilai cerita rakyat Suku Amungme dan Suku Komoro mencerminkan identitas, falsafah hidup, serta nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman masyarakat adat selama bertahun-tahun.
Elisabet juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan pelaku budaya menjadi kunci agar cerita rakyat tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
“Mari kita sukseskan pemajuan kebudayaan Mimika melalui pelestarian cerita rakyat Amungme dan Komoro demi terwujudnya Mimika yang semakin berbudaya dan bermartabat,” tutupnya. (LE)
























