TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Hujan masih mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dalam beberapa hari terakhir meski fenomena El Nino tengah berlangsung. Kondisi ini terjadi ketika curah hujan di wilayah lain justru cenderung berkurang akibat pengaruh El Nino.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mozes Kilangin Mimika menjelaskan hujan yang terjadi di wilayah pesisir dan Kota Timika dipengaruhi sistem siklon tropis di kawasan Pasifik.
Forecaster BMKG Mozes Kilangin Mimika, Dwi Christanto, mengatakan secara normal El Nino membuat massa udara dari Australia bergerak menuju wilayah Pasifik. Pola tersebut menyebabkan pembentukan awan hujan di Mimika menjadi lebih terbatas.
Namun, kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi sistem siklon tropis yang terpantau berada di sebelah timur Filipina.
“Secara normal saat El Nino, massa udara dari Australia bergerak ke arah Pasifik sehingga pembentukan awan hujan di Mimika lebih terbatas,” kata Dwi saat diwawancarai, Jumat, 24 September 2026.
Menurut Dwi, suhu permukaan laut di sekitar Mimika relatif dingin. Kondisi itu membuat pertumbuhan awan hujan lokal di wilayah Mimika tidak terlalu aktif.
Sebaliknya, suhu laut di wilayah Australia relatif lebih hangat sehingga pembentukan awan berlangsung lebih aktif. Awan tersebut kemudian bergerak menuju Papua Selatan dan melewati Mimika.
Pergerakan awan itu dipengaruhi pola angin yang berkaitan dengan sistem siklon tropis.
“Awan hujannya dari arah Papua Selatan bergerak ke Mimika. Ketarik karena adanya tropical cyclone yang dicurigai,” ujarnya.
Dwi memperkirakan pengaruh sistem tersebut masih dapat memicu hujan ringan hingga sedang di Mimika sampai Sabtu, 26 September 2026.
Siklon tropis, kata dia, pada dasarnya dapat membawa hujan sekaligus angin kencang. Namun, dampak yang dirasakan di Mimika saat ini lebih dominan berupa peningkatan curah hujan.
Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah pegunungan Papua. Ketika wilayah pesisir Mimika masih mendapat hujan, sejumlah kawasan pegunungan justru telah mengalami kekeringan selama hampir enam bulan.
Dwi mengatakan pengaruh sistem siklon tropis tidak terlalu signifikan di wilayah pegunungan karena kondisi atmosfer dan ketersediaan uap airnya berbeda dengan kawasan pesisir.
Kekeringan di wilayah pegunungan diperkirakan masih berlangsung hingga fenomena El Nino berakhir pada awal 2027.
“Wilayah pegunungan cenderung dingin tetapi kering. Apalagi El Nino masih kuat, hanya berpotensi hujan beku tetapi tidak terjadi hujan,” kata Dwi.
Sementara itu, wilayah pesisir dan kawasan perkotaan Mimika masih memiliki peluang hujan lebih tinggi selama pengaruh sistem siklon tropis tersebut bertahan.
Namun, kondisi itu diperkirakan tidak berlangsung lama. Setelah pengaruh sistem tersebut berakhir sekitar 26 September, pola cuaca di Mimika diperkirakan kembali dipengaruhi kondisi El Nino.
“Wilayah yang berpotensi hujan adalah daerah pesisir dan wilayah kota kalau siklon tropis yang dicurigai itu masih ada. Tapi nanti 26 September akan berakhir, kita akan kembali ke kemarau,” ujar Dwi. (LE)

























