TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika memperkuat integrasi pelayanan HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), malaria, dan hepatitis (ATMH) di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Upaya ini dilakukan untuk mempermudah akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus meningkatkan penemuan kasus secara dini.
Penguatan layanan tersebut dilakukan melalui orientasi tenaga kesehatan untuk mendukung implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di Hotel Horison Ultima Timika, Kamis-Sabtu (29–31 Oktober 2026).
Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan dari sembilan puskesmas di Kabupaten Mimika dengan dukungan enam narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.
Technical Officer RSSH Kementerian Kesehatan yang didukung pendanaan Global Fund, Osto Avian Antonius, mengatakan orientasi tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar pelayanan empat penyakit itu dapat terintegrasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menurut Osto, selama ini pelayanan HIV/AIDS, TB, malaria, dan hepatitis cenderung berjalan berdasarkan program masing-masing. Melalui integrasi ATMH, layanan tersebut diharapkan terhubung dalam satu sistem pelayanan kesehatan primer.
“Melalui program ini, kita mengintegrasikan layanan yang sebelumnya masih berjalan berdasarkan masing-masing penyakit, sehingga nantinya bisa diterapkan di puskesmas hingga Puskesmas Pembantu (Pustu),” jelas Osto.
Ia menjelaskan, program ini dilaksanakan oleh Dinkes Mimika dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan pendanaan hibah Global Fund. Penentuan lokasi serta pelaksanaannya di daerah dikoordinasikan bersama Dinas Kesehatan.
Puskesmas Wania Jadi Lokasi Percontohan
Dalam penerapan integrasi layanan ATMH, Puskesmas Wania ditetapkan sebagai lokasi percontohan. Model pelayanan di fasilitas tersebut diharapkan menjadi acuan bagi puskesmas lainnya.
Orientasi dilaksanakan dalam dua angkatan. Angkatan pertama diikuti tenaga kesehatan dari Puskesmas Wania, Timika, Timika Jaya, dan Pasar Sentral. Sementara itu, angkatan kedua melibatkan Puskesmas Karang Senang, Limau Asri, Mapurujaya, Ayuka, dan Bintuka.
Peserta terdiri atas kepala puskesmas dan penanggung jawab klaster dari masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan.
Osto berharap para peserta dapat meneruskan materi orientasi kepada tenaga kesehatan di puskesmas dan Pustu di wilayah kerja masing-masing. Setiap puskesmas juga diminta melengkapi serta menyesuaikan standar operasional prosedur (SOP) agar integrasi layanan dapat berjalan sesuai ketentuan.
Selain menerapkan materi yang diperoleh, peserta diharapkan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan pelaksanaan integrasi layanan berjalan efektif.
Permudah Akses Pelayanan Kesehatan
Integrasi layanan ATMH diarahkan untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini dan menjaga kesinambungan pelayanan berdasarkan siklus hidup. Upaya tersebut juga mencakup penguatan pemantauan wilayah setempat, kunjungan kader, serta kunjungan rumah.
Melalui sistem klaster, alur pelayanan diharapkan menjadi lebih sederhana sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang terhubung, mulai dari promotif dan preventif hingga kuratif dan rehabilitatif.
Dengan penguatan integrasi ini, Dinkes Mimika diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan HIV/AIDS, TB, malaria, dan hepatitis sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Mimika. (LE)

























