TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Kabut asap pekat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin, Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, selama sepekan terakhir. Pada Senin dan Selasa (12–13 Oktober 2026), jarak pandang di sekitar landasan dilaporkan turun hingga 300 meter sehingga sejumlah pesawat terpaksa mengalihkan pendaratan ke bandara alternatif.
Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Mozes Kilangin Timika, Muchammad Nafiek, mengatakan kondisi tersebut berada di bawah batas minimum jarak pandang untuk pendaratan menggunakan fasilitas Instrument Landing System (ILS) Kategori I, yakni 800 meter.
“Tadi pagi jarak pandang turun sampai dengan 300 meter. Sehingga hari ini hampir semua penerbangan—Sriwijaya, Lion, Garuda—melakukan divert atau mengalihkan pendaratan ke bandara alternatif di Jayapura,” ungkap Nafiek, Selasa (13/10/2026).
Ia menegaskan, keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan. Ketika jarak pandang berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan, pilot dapat melakukan holding atau menunggu di udara, maupun mengalihkan pendaratan ke bandara lain sesuai kondisi dan prosedur keselamatan.
Gangguan tersebut berdampak pada jadwal penerbangan, mulai dari penundaan, penjadwalan ulang, hingga pembatalan penerbangan. Kondisi ini juga menyebabkan penumpukan calon penumpang di bandara.
Untuk membantu mengurai penumpukan dan mengakomodasi penyesuaian jadwal maskapai, pengelola bandara memperpanjang jam operasional landasan hingga malam hari.
“Jam operasional normal kami dari pukul 05.30 hingga 16.00 WIT. Tadi malam perpanjangan dilakukan hingga pukul 23.00 WIT dengan mengerahkan seluruh kemampuan sumber daya yang ada,” ujar Nafiek.
Menurut dia, gangguan akibat kabut asap masih berpotensi berlangsung selama beberapa hari ke depan. Berdasarkan hasil pemantauan yang disampaikan pihak bandara, asap yang menyelimuti Mimika diduga merupakan kiriman dari titik api di luar daerah yang terbawa angin.
Untuk menangani kondisi tersebut, UPBU Mozes Kilangin telah berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke.
Gangguan merembet ke penerbangan maskapai
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan penerbangan yang menuju Timika. Sistem penerbangan berantai atau multi-leg juga menyebabkan keterlambatan merembet ke sejumlah bandara lain, termasuk Makassar, Denpasar, dan Jayapura.
Person in Charge (PIC) Lion Group Timika, Saman, mengonfirmasi bahwa gangguan mencapai puncaknya dalam dua hari terakhir.
“Untuk Lion sendiri kemarin berdampak hingga pukul 11 malam, kami meminta perpanjangan jam operasi bandara. Kami sangat mengapresiasi dukungan dari pihak pengelola bandara,” tuturnya.
Gangguan serupa dialami Garuda Indonesia. Perwakilan maskapai tersebut menyebut sedikitnya lima hingga tujuh jadwal penerbangan Garuda terdampak signifikan selama sepekan terakhir.
“Terkait dengan kabut asap ini tentunya sangat berdampak bagi penerbangan karena hubungannya langsung dengan keselamatan. Dengan jarak pandang yang sangat minim, menyebabkan banyak pesawat melakukan divert. Keputusan itu diambil dengan landasan keselamatan penerbangan,” kata perwakilan Garuda Indonesia.
Penumpang diminta memperhatikan perubahan jadwal
Terkait hak penumpang yang terdampak, pihak bandara dan perwakilan maskapai menyebut gangguan akibat kondisi di luar kendali operasional dapat memengaruhi ketentuan kompensasi. Maskapai juga disebut memfasilitasi penjadwalan ulang (rebook) dan pengembalian dana tiket (refund) sesuai ketentuan yang berlaku.
Penumpang yang memiliki jadwal penerbangan dari dan menuju Timika diimbau memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara, mengingat perubahan jadwal dapat terjadi mengikuti perkembangan jarak pandang dan kondisi keselamatan penerbangan. (LE)























