• Privacy Policy
  • Redaksi
  • Login
Cartenz News
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Cartenz News
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Cartenz News
No Result
View All Result
Home Sosial dan Budaya
Esai: Analisis Kondisi Sosial dan Alam Papua dalam Angin-Angin Laut Irian Diah dari Perspektif Longinus

Henry Wasini, Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; Putra asli Papua. Foto: Istimewa

Esai: Analisis Kondisi Sosial dan Alam Papua dalam Angin-Angin Laut Irian Diah dari Perspektif Longinus

Redaksi Cartenz News by Redaksi Cartenz News
April 9, 2026
in Sosial dan Budaya
0
539
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Henry Wasini

Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma; Putra asli Papua

Baca Juga

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

May 23, 2026
Kapolda Papua Tengah Lakukan Baksos dan Bakes Untuk Warga Pulau Karaka

Kapolda Papua Tengah Lakukan Baksos dan Bakes Untuk Warga Pulau Karaka

May 22, 2026

PUISI Angin-Angin Laut Irian karya Diah Hadaning terbit tahun 2000. Jenis karya sastra ini sarat makna. Ia mengangkat potret getir kondisi sosial dan alam di tanah Papua. Angin-Angin Laut Irian lebih dari sekadar rangkaian kata indah.

Kepala Distrik Mimika Timur Jauh Priska Kuum

Puisi ini adalah medium kritik sosial yang tajam terhadap perubahan lingkungan yang telah merusak keseimbangan ekosistem dan tatanan hidup masyarakat adat Papua, wilayah paling timur Indonesia.

Papua, sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam yang luar biasa besar dan keunikan budaya yang menyebar di seluruh lekuk ‘benua’ itu, menjadi latar utama yang digambarkan penyair dengan penuh keprihatinan.

Artikel Matapena, Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Volume 7 Nomor 2 Desember 2024, dalam analisisnya terhadap Angin-Angin Laut Irian menegaskan, Diah menyoroti kerusakan lingkungan yang berdampak langsung pada kondisi sosial masyarakat Papua.

Diah juga menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang kelangsungan hidup dan tradisi mereka yang mulai kehilangan jati diri.

Dalam esai ini, penulis akan mengupas lebih dalam bagaimana kondisi sosial dan alam Papua digambarkan dalam Angin-Angin Laut Irian. Analisis akan diperkaya dengan penerapan perspektif keagungan (sublime) dari Longinus, seorang kritikus sastra Yunani kuno.

Teori Longinus, yang berfokus pada elemen-elemen yang mampu membangkitkan kekaguman, ketakutan, dan emosi yang luar biasa, akan digunakan untuk memahami kedalaman dampak penggambaran penyair.

Kita akan mengeksplorasi bagaimana keagungan alam Papua yang seharusnya memukau justru terkikis oleh kerusakan, dan bagaimana hal ini memengaruhi keagungan serta identitas masyarakatnya. Melalui lensa Longinus, esai ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana puisi ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga sebuah seruan kepedulian terhadap kondisi wilayah yang mulai kehilangan identitasnya.

Kajian Teori: Puisi sebagai Kritik Sosial dan Konsep Keagungan Longinus

Menurut Kosasih (2012:97) puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan puisi sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, metrum, rima, serta penataan larik dan bait.

Lebih dari itu, puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, yang disusun dalam bentuk yang paling berkesan (Pradopo, 1995). Puisi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial. Sedangkan Idal (2017:2) mendefinisikan kritik sosial sebagai sindiran, kritik, atau respons terhadap kelompok atau individu tertentu terkait kerapuhan yang terjadi dalam masyarakat.

Oksinata (2010:33) menambahkan bahwa kritik sosial adalah bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan sebagai kontrol terhadap jalannya sistem sosial atau proses kemasyarakatan. Dengan demikian, Angin-Angin Laut Irian Diah dapat dipahami sebagai medium penyampaian kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan dan dampaknya pada masyarakat Papua.

Di sisi lain, konsep keagungan (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus dalam karyanya, On the Sublime (1554) menawarkan kerangka analisis yang unik. Longinus mendefinisikan keagungan sebagai sesuatu yang melampaui pemahaman biasa, mampu membangkitkan kekaguman, ketakutan, dan emosi yang kuat serta mendalam.

Keagungan ini tidak hanya terbatas pada keindahan visual, tetapi juga pada kekuatan, kebesaran, dan dampak emosional yang luar biasa. Longinus mengidentifikasi lima sumber utama keagungan.

Pertama, kemampuan membentuk gagasan besar (kekuatan pikiran). Kedua, emosi yang kuat dan bergairah. Ketiga, penggunaan majas yang tepat dan indah. Keempat, susunan kata yang mulia dan agung. Kelima, susunan kalimat yang megah dan mengesankan.

Dalam konteks puisi Diah, teori Longinus akan membantu kita memahami bagaimana penggambaran alam dan penderitaan masyarakat Papua menciptakan efek keagungan, meskipun dalam konteks kehancuran.

Kondisi Sosial dan Alam Papua dalam Puisi Angin-Angin Laut Irian

Puisi Angin-Angin Laut Irian secara gamblang menggambarkan kondisi alam Papua yang mengalami kerusakan parah, yang kemudian berimbas pada kondisi sosial masyarakatnya.

Penyair memulai puisinya dengan sapaan kepada Yan Yapo yang diinterpretasikan dalam artikel Matapena sebagai representasi masyarakat Papua, khususnya dari daerah Sentani.

Sapaan: Apa kabar lelakiku dari Sentani Yan Yapo, Yan Yapo? Kupanggil kau lewat angin-angin laut Irian membuka percakapan yang penuh keakraban namun juga tersirat kekhawatiran.

Kekhawatiran ini segera terwujud dalam bait kedua. Benarkah kini kau semakin tua tak kuat lagi menokok sagu sambil menggendong anakmu. Penggambaran ini menunjukkan penurunan kemampuan fisik dan sosial masyarakat Papua.

Aktivitas tradisional seperti menokok sagu, yang merupakan sumber pangan pokok dan bagian dari identitas budaya, kini menjadi sulit dilakukan. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan lingkungan atau kondisi yang membuat aktivitas tersebut semakin berat, bahkan mungkin karena sumber daya alam yang menipis atau tercemar.

Bait ketiga, Apa kabar perisai lan git dari Sentani bintang kejora pasang di sana di bendera bikin masalah ternyata memperkenalkan metafora “perisai langit” yang melambangkan kekuatan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Namun, frasa “di bendera bikin masalah ternyata” menyiratkan adanya ancaman atau gangguan terhadap kesejahteraan tersebut. Ancaman ini diperjelas pada bait keempat: Berapa lama musim kita dinodai mozaik utopia gunung datar hutan gundul debu menerpa Yamdena.

Di sini, penyair secara eksplisit menggambarkan kerusakan alam yang masif: gunung yang seharusnya megah menjadi datar, hutan yang lebat menjadi gundul, dan debu polusi menerpa wilayah seperti Yamdena.

Artikel Matapena mengaitkan kerusakan ini dengan aktivitas pertambangan yang luas di Papua, yang menyebabkan penggundulan hutan dan polusi udara. Keindahan alam Papua yang seharusnya menjadi sumber kebanggaan dan kehidupan kini tercemar.

Dampak dari kerusakan alam ini dirasakan mendalam oleh masyarakat Papua, seperti tergambar pada bait kelima dan keenam: Kau tangisi saat purnama kalam semesta tak lagi menyairkan keindahan bumimu kau banggakan dan Padaku di tanah barat duka itu terlalu berat bagi jiwa sederhana.

Masyarakat Papua meratapi hilangnya keindahan alam yang mereka banggakan. Kesedihan ini begitu mendalam hingga terasa hingga ke “tanah barat,” menunjukkan bahwa penderitaan masyarakat Papua akibat kerusakan lingkungan ini memiliki dampak yang meluas dan menjadi perhatian banyak pihak.

Puncak dari kepedihan dan kemarahan masyarakat Papua diungkapkan pada bait terakhir: Yan Yapo, Yan Yapo, lelakiku dari Sentani lalu kau marah pada angin lalu kau ‘nangis pada laut Irian gemetar kau terkapar.

Kemarahan dan kesedihan ini diekspresikan melalui personifikasi elemen alam, yaitu angin dan laut. Angin menjadi pembawa kabar kemarahan, sementara laut menjadi penampung kesedihan.

Elemen alam yang seharusnya memberikan kehidupan kini menjadi cerminan keputusasaan, ketidakberdayaan, dan frustrasi masyarakat Papua. Penutup yang dramatis ini menegaskan bahwa perubahan dan kerusakan alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan identitas dan jiwa masyarakat adat.

Aplikasi Perspektif Longinus: Keagungan yang Terkikis dan Sublime dalam Kehancuran

Penerapan teori keagungan Longinus pada Angin-Angin Laut Irian memberikan dimensi analisis yang mendalam. Longinus menekankan bahwa keagungan muncul dari sesuatu yang besar, kuat, dan mampu membangkitkan emosi yang luar biasa.

Dalam puisi ini, kita dapat melihat bagaimana keagungan alam Papua yang seharusnya menjadi sumber sublime justru digambarkan dalam keadaan terkikis.

Keagungan alam Papua yang seharusnya memukau. Papua dikenal dengan kekayaan hayati, bentang alam pegunungan yang megah, hutan tropis yang lebat, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Potensi keagungan alam ini, jika digambarkan dengan baik, akan mampu membangkitkan rasa takjub dan kekaguman yang luar biasa pada pembaca, sesuai dengan konsep sublime Longinus.

Namun, Diah justru menyajikan kontras yang menyakitkan. Penggambaran “gunung datar, hutan gundul, debu menerpa Yamdena” secara gamblang menunjukkan hilangnya keagungan alam tersebut. Ini adalah bentuk sublime.

ShareTweetShareSend
20260321 Idul Fitri Distrik Jila
Redaksi Cartenz News

Redaksi Cartenz News

Related Posts

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika
Berita Utama

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

May 23, 2026
Kapolda Papua Tengah Lakukan Baksos dan Bakes Untuk Warga Pulau Karaka
Berita Utama

Kapolda Papua Tengah Lakukan Baksos dan Bakes Untuk Warga Pulau Karaka

May 22, 2026
Gereja Katolik di Intan Jaya Dibom, TNI : Granat Bukan Standart TNI
Berita Utama

Gereja Katolik di Intan Jaya Dibom, TNI : Granat Bukan Standart TNI

May 19, 2026
Bupati Mimika Ungkap Duka, 7 Karyawan Freeport Ditemukan Meninggal Dunia
Berita Utama

Pemkab Mimika Bakal Tertibkan Tanah Kosong yang Dikuasai Warga, Bupati: Banyak yang Jadi Tempat Jualan

May 18, 2026
Warga Kelurahan Inauga Diminta Tidak Buang Sampah di Saluran Drainase, Musim Hujan Rawan Banjir
Berita Utama

Warga Kelurahan Inauga Diminta Tidak Buang Sampah di Saluran Drainase, Musim Hujan Rawan Banjir

May 18, 2026
Sambut Hari Bhayangkara Polda Papua Tengah dan Polres Mimika Bakti Sosial ke Pulau Karaka Mimika dalam Pekan Ini
Berita Utama

Sambut Hari Bhayangkara Polda Papua Tengah dan Polres Mimika Bakti Sosial ke Pulau Karaka Mimika dalam Pekan Ini

May 18, 2026
Next Post
Bupati Yudas Tebai Hadiri Rapat Klarifikasi Pelaku Pembunuhan Anggota Polres Dogiyai Juventus Edowai

Bupati Yudas Tebai Hadiri Rapat Klarifikasi Pelaku Pembunuhan Anggota Polres Dogiyai Juventus Edowai

Polres Jayapura Laksanakan Pemupukan Tanaman Jagung di Doyo Lama Guna Mengoptimalkan Ketahanan Pangan

Polres Jayapura Laksanakan Pemupukan Tanaman Jagung di Doyo Lama Guna Mengoptimalkan Ketahanan Pangan

Bhabinkamtibmas Polsek Sentani Kota Salurkan Bantuan Bama kepada Warga Terdampak Banjir di Kampung Ifale

Bhabinkamtibmas Polsek Sentani Kota Salurkan Bantuan Bama kepada Warga Terdampak Banjir di Kampung Ifale

Menteri Koperasi Ferry Juliantono Kunjungi Yayasan Somatua: Kopi Papua Didorong Jadi Komoditas Unggulan Daerah

Menteri Koperasi Ferry Juliantono Kunjungi Yayasan Somatua: Kopi Papua Didorong Jadi Komoditas Unggulan Daerah

Pengurus PMKRI Cabang Timika Santa Theresia Periode 2026-2028 Dilantik Sabtu Ini, Diawali Perayaan Ekaristi

Pengurus PMKRI Cabang Timika Santa Theresia Periode 2026-2028 Dilantik Sabtu Ini, Diawali Perayaan Ekaristi

20260321 Idul Fitri DMPK
  • Trending
  • Comments
  • Latest
KPU Mimika Tetapkan 35 Caleg  DPRD Mimika yang Peroleh Suara Terbanyak dari Enam Dapil pada Pemilu 2024

KPU Mimika Tetapkan 35 Caleg DPRD Mimika yang Peroleh Suara Terbanyak dari Enam Dapil pada Pemilu 2024

March 13, 2024
Roling Pejabat di Lingkup Pemkab Mimika Segera Dilakukan, Johannes Rettob Pastikan Tidak Ada Unsur Politik

Roling Pejabat di Lingkup Pemkab Mimika Segera Dilakukan, Johannes Rettob Pastikan Tidak Ada Unsur Politik

May 28, 2023
KPU Mimika Tetapkan 35 Calon Terpilih Anggota DPRD Mimika Periode 2024-2029

KPU Mimika Tetapkan 35 Calon Terpilih Anggota DPRD Mimika Periode 2024-2029

May 28, 2024
Screenshot 20250429 101401 Facebook

Bupati Mimika Jelaskan Alasan Belum Dilakukan Mutasi Jabatan

April 29, 2025
Penyerahan uang kepala dari Prajurit  Satgas Yonif R 600/Modang kepada  perwakilan keluarga Almarhum Bruno Amenim di rumah duka Kelurahan Bade, Distrik Edera,  Kabupaten Mappi. (FOTO: ISTIMEWA)

Penuhi Adat dan Permintaan Keluarga, Satgas Yonif R 600/Modang Berikan Uang Adat Di Atas Peti Disaksikan Warga

0
Sekretaris PMI Provinsi Papua, dr Raflus Doranggi  memukul tifa sebagai tanda menutup  kegiatan Muskab PMI Kabupaten Puncak  di Hotel Grand Mozza Timika, Papua. (Foto: Cartenz News/Yosefina)

Kembali Pimpin PMI Puncak Papua, Elpina Kogoya akan Bentuk PMR

0
Suasana pelayanan kesehatan di Puskesmas Timika Jaya Kabupaten Mimika. (Foto Yosefina/Cartenz News)

Pelayanan di Puskesmas Timika Jaya 24 Jam

0
Kepada Paus Fransiskus, Uskup Agung Merauke Utarakan Harapannya

Kepada Paus Fransiskus, Uskup Agung Merauke Utarakan Harapannya

0
Panitia Hari Besar Islam Kabupaten Mimika Gelar Rakor Bersama DKM Dalam Rangka Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah

Panitia Hari Besar Islam Kabupaten Mimika Gelar Rakor Bersama DKM Dalam Rangka Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah

May 24, 2026
Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo Dibakar OTK

Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo Dibakar OTK

May 23, 2026
Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

May 23, 2026
Polres Mimika Tangkap Ayah Bejat yang Setubuhi Anak Tirinya, Sempat Kabur Saat Ditangkap

Polres Mimika Tangkap Ayah Bejat yang Setubuhi Anak Tirinya, Sempat Kabur Saat Ditangkap

May 23, 2026

Recent News

Panitia Hari Besar Islam Kabupaten Mimika Gelar Rakor Bersama DKM Dalam Rangka Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah

Panitia Hari Besar Islam Kabupaten Mimika Gelar Rakor Bersama DKM Dalam Rangka Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah

May 24, 2026
Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo Dibakar OTK

Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo Dibakar OTK

May 23, 2026
Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

Pagar Lahan Milik Keuskupan Timika Dirusak, Laporkan Mafia Tanah Ke Polres Mimika

May 23, 2026
Polres Mimika Tangkap Ayah Bejat yang Setubuhi Anak Tirinya, Sempat Kabur Saat Ditangkap

Polres Mimika Tangkap Ayah Bejat yang Setubuhi Anak Tirinya, Sempat Kabur Saat Ditangkap

May 23, 2026
20260321 Idul Fitri DPRK Adolina Magal
Cartenz News

Follow Us

Rubrik

  • Berita Utama
  • Editorial
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Pariwisata
  • Politik
  • Sosial dan Budaya
  • Sosok
  • Teknologi
Paskah 2026 - Dinas PMK Mimika
  • Privacy Policy
  • Redaksi

© 2022 Cartenz News

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya

© 2022 Cartenz News