POUMAKO, CARTENZNEWS.COM — Ketua DPRK Mimika Primus Natikapereyau mengajak masyarakat, khususnya warga Mapurujaya dan Poumako, memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) serta bersama-sama memerangi peredaran dan konsumsi minuman keras (miras) dan narkoba.
Ajakan itu disampaikan Primus dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Mapurujaya di Pelabuhan Perikanan Poumako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Primus, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu kunci untuk membangun kesadaran masyarakat agar meninggalkan kebiasaan mengonsumsi miras.
Ia menilai masih ada sebagian masyarakat yang menganggap miras dapat membantu kehidupan mereka. Padahal, konsumsi miras justru dapat menimbulkan berbagai persoalan dan mengancam keselamatan.
“Harus melihat bersama SDM masyarakat yang ada di sini, yang ada di kabupaten ini. SDM mampu ditingkatkan sehingga miras itu ada kesadaran untuk menghentikan miras,” ujar Primus.
Miras dan narkoba jadi persoalan bersama
Primus menegaskan, persoalan miras dan narkoba tidak dapat dianggap sepele karena telah menimbulkan berbagai dampak sosial di tengah masyarakat.
Ia juga meminta kampanye mengenai bahaya narkoba dilakukan secara serius dan ditempatkan pada ruang yang tepat agar pesan tersebut dapat diterima masyarakat.
“Kita berbicara tentang miras, kita berbicara tentang narkoba. Saya lihat kita pernah menyuarakan tentang narkoba, tetapi kita bikin di tempat yang tidak layak. Saya pikir kalau kita punya komitmen, mari kita tempatkan hal-hal ini di tempat yang baik,” katanya.
Primus mengungkapkan, konsumsi miras juga berkontribusi terhadap sejumlah persoalan di Mapurujaya dan Poumako, termasuk kecelakaan lalu lintas.
Ia meminta masyarakat menyadari bahwa keselamatan diri dan orang lain merupakan tanggung jawab bersama.
“Miras ini sudah membunuh berapa orang di Mapurujaya atau yang ada di Poumako ini. Bukan kecelakaan biasa, ada yang terlindas, ada yang ditabrak, dan itu dalam keadaan beralkohol,” ungkapnya.
Menurut Primus, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Penanganan persoalan miras dan narkoba, kata dia, tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.
Kesadaran masyarakat perlu dibangun dengan dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
Minta masyarakat saling menghargai
Dalam kesempatan itu, Primus juga mengingatkan masyarakat yang hidup dan bekerja di Kabupaten Mimika untuk saling menghargai.
Ia mengatakan masyarakat asli yang telah mendiami wilayah tersebut harus mendapatkan penghormatan. Di sisi lain, seluruh warga yang hidup di Mimika memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun daerah.
“Pemerintah yang ada di kabupaten ini adalah anak-anak Labema ataupun yang lahir besar di sini. Bagi saya, orang yang hidup di Kabupaten Mimika ini punya tanggung jawab untuk membesarkan SDM di kabupaten ini,” katanya.
Menurut Primus, pembangunan harus dilakukan dengan tetap menghargai masyarakat pemilik wilayah.
“Harus menghargai bahwa orang yang punya tempat di sini adalah Mume dan Kamoro serta seluruh masyarakat kabupaten yang hidup di tempat ini,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar tidak terjadi sikap saling mengabaikan, mengambil hak orang lain, maupun merugikan masyarakat setempat.
Sebaliknya, masyarakat diminta saling merangkul dan mengingatkan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.
“Kesadaran itu tidak datang dari orang lain, tetapi dari kita sendiri,” tegasnya.
Pendidikan menjadi kunci
Primus menilai pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap pemerintah memperkuat sektor pendidikan, antara lain melalui dukungan beasiswa dan regulasi yang mendukung peningkatan kualitas SDM.
“Saya orang Kamoro. Saya mau kita maju di tempat kita sendiri. Karena dengan adanya sekolah, di situ baru kita bisa maju, bisa duduk bersama dengan teman-teman kita, saudara-saudara kita di kantor yang sama,” katanya.
Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan akan membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak asli Mimika untuk bersaing dan bekerja di berbagai sektor.
Primus juga mengajak pemerintah belajar dari pengalaman generasi terdahulu yang mampu mendapatkan pendidikan meski kondisi anggaran daerah dan teknologi ketika itu masih terbatas.
Ia mencontohkan orang-orang tua yang dahulu menempuh pendidikan di Kokonao melalui sistem asrama.
“Orang-orang tua saya itu sekolah di Kokonao, itu asrama. Orang bilang APBD sangat kecil, teknologi paling kecil, paling tidak ada. Tapi orang tua saya bisa berhasil,” tuturnya.
Menurut Primus, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
HUT ke-50 menjadi momentum evaluasi
Memasuki usia 50 tahun Mapurujaya, Primus mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan sejarah dan perjuangan para pendahulu.
Ia mengingatkan bahwa Mimika pernah berada dalam kondisi dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang relatif kecil. Namun, para pendahulu tetap mampu meletakkan fondasi pemerintahan dan pembangunan masyarakat.
Karena itu, semangat tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi saat ini.
Primus juga menyampaikan penghormatan kepada para mantan kepala distrik dan tokoh masyarakat yang telah mengabdikan diri bagi Mimika Timur dan Mapurujaya.
“Saya hargai semua, sesungguhnya orang tua saya yang pernah menjabat sebagai Kepala Distrik di sini, di Distrik Mimika Timur atau Mapurujaya,” katanya.
Ia mengajak masyarakat menjaga persatuan dan menjalankan pemerintahan secara baik.
“Mari kita saling merangkul supaya Mapurujaya kita jalankan dengan baik, pemerintahan ini kita jalankan dengan baik, keseluruhan Kabupaten Mimika ini kita bisa melihat bersama kemajuannya,” ujarnya.
Primus menilai Mimika memiliki kemampuan anggaran yang cukup besar untuk membiayai pembangunan. Karena itu, menurut dia, yang diperlukan adalah pengelolaan anggaran secara tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Saya pikir kita tidak kurang uang, APBD cukup besar, tinggal tergantung pengaturan,” pungkasnya. (LE)

























