TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif (Disparbudparekraf) menggelar Festival Seni Budaya di Eks Pasar Swadaya, Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua Tengah, Senin (5/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga 8 Oktober 2026 itu digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika pada 8 Oktober sekaligus memperingati Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026.
Festival mengusung tema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, dan Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro.”
Festival dibuka oleh Bupati Mimika Johannes Rettob yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sekretariat Daerah Mimika, Fransiskus Bokeyau. Pembukaan turut dihadiri Kepala Disparbudparekraf Mimika Elisabeth Cenawatin.
Peserta berasal dari kelompok seni dan budaya, kerajinan, rajutan, anyaman, dan ukiran yang berjumlah 30 sanggar. Selain itu, terdapat 12 sanggar kuliner, 20 peserta fashion show, 20 peserta cerita rakyat, serta 18 peserta musik akustik dari sanggar musik etnik.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi dan apresiasi bagi generasi muda, termasuk siswa SMP, SMA, dan SMK, serta seniman dan pelaku budaya lokal.
Budaya Amungme dan Kamoro
Dalam sambutannya, Frans Bokeyau mengatakan festival tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang untuk menghidupkan kembali cerita, musik, tarian, dan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Menurut dia, festival menjadi panggung bagi para pencerita untuk membagikan kisah leluhur, musisi untuk memainkan kembali melodi tradisional, serta penari untuk mengekspresikan warisan budaya melalui gerak.
“Tema merawat cerita, menghidupkan musik, dan melestarikan budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro bukan sekadar rangkaian kata. Tema ini merupakan doa, harapan, sekaligus komitmen bersama dalam menjaga warisan leluhur yang telah dititipkan kepada kita,” ujarnya.
Ia mengatakan Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro memiliki kekayaan cerita mengenai hubungan leluhur dengan alam, kearifan lokal, serta nilai persaudaraan.
Cerita tersebut, kata Frans, merupakan bagian dari identitas masyarakat Mimika yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Merawat cerita berarti menjaga ingatan kolektif. Inilah nilai-nilai kehidupan serta identitas budaya yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mimika,” katanya.
Frans juga menilai musik merupakan bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat Mimika. Lagu tradisional, tabuhan tifa, dan tiupan pikon, menurut dia, tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat persaudaraan dan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.
“Musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan hati. Bahkan ketika kata-kata tidak mampu lagi berbicara,” ujarnya.
Amungme dan Kamoro sebagai penjaga alam
Selain musik dan cerita rakyat, Frans menekankan pentingnya menjaga pakaian adat sebagai bagian dari identitas budaya.
Menurut dia, pakaian adat mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab ketua adat dan pelaku seni, tetapi juga pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan generasi muda.
“Kita harus bangga dengan tradisi kita, namun juga terbuka untuk berekspresi dan berinovasi,” katanya.
Frans menjelaskan masyarakat Amungme secara turun-temurun mendiami wilayah pegunungan dan dikenal memiliki hubungan erat dengan gunung serta hutan. Sementara masyarakat Kamoro mendiami wilayah pesisir dan memiliki hubungan erat dengan laut serta sungai.
Menurut dia, Amungme dan Kamoro merupakan dua unsur penting dalam kebudayaan Kabupaten Mimika.
“Kedua suku ini adalah penjaga alam dan budaya yang telah menjaga keseimbangan kehidupan selama berabad-abad,” ujar Frans.
Ia mengatakan nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta kepedulian terhadap alam yang terkandung dalam berbagai upacara adat, tarian, dan nyanyian perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
Frans menegaskan Festival Seni Budaya bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memajukan kebudayaan dan kesenian Mimika.
Pelestarian tersebut mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan serta kesenian daerah.
“Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen untuk terus mendukung para pelaku kebudayaan dan kesenian di Mimika,” tegasnya.
Ia berharap festival tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran dan sumber inspirasi bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Mimika. (LE)


























