TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Kementerian Koperasi mendorong Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memperkuat pembinaan terhadap para pengrajin agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dekranasda diharapkan tidak hanya menjadi penyelenggara pameran, tetapi juga membantu pengrajin meningkatkan kualitas produk, memperluas pemasaran, dan mengakses pembiayaan usaha.
Asisten Deputi Pengawasan Penataan Usaha Kementerian Koperasi, Naslindo Sirait, mengatakan Dekranasda memiliki peran strategis dalam mengembangkan kerajinan berbasis budaya lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Hal itu disampaikan Naslindo saat mengunjungi stan Dekranasda Kabupaten Mimika di Lapangan Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Kamis (8/10/2026).
Menurut Naslindo, kerajinan daerah memiliki kekuatan pada corak dan identitas budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Namun, potensi tersebut perlu didukung kreativitas, pengelolaan usaha, dan strategi pemasaran yang tepat.
“Karena sudah diharapkan mampu menghimpun para pengrajin di daerah untuk menumbuhkembangkan kreativitas kerajinan yang ada. Di dalamnya ada konten dan corak budaya, tetapi dibuat menjadi nilai ekonomis,” ujar Naslindo.
Ia mengatakan, peningkatan daya saing produk kerajinan membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari efisiensi proses bisnis, ketersediaan bahan baku, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, hingga penguatan jaringan pemasaran dan manajemen usaha.
Pembinaan Tak Boleh Berhenti pada Pameran
Naslindo menegaskan, pembinaan terhadap pengrajin perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika pameran atau kegiatan promosi berlangsung.
Menurut dia, Dekranasda perlu membantu membangun pola pikir kewirausahaan para pengrajin, memastikan ketersediaan bahan baku, memperkuat rantai pasok (supply chain), serta meningkatkan kemampuan pemasaran digital.
“Dekranasda jangan hanya berhenti membuat pameran atau tampil pada saat pameran. Tetapi sepanjang hari melakukan pembinaan, mulai dari mindset kewirausahaan para pengrajin, bagaimana bahan baku mereka harus bisa dipastikan, supply chain-nya juga harus terurai dengan baik,” katanya.
Ia juga mendorong pengrajin memanfaatkan berbagai kesempatan pameran dan kegiatan promosi untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.
Dengan pembinaan yang konsisten, produk kerajinan diharapkan mampu berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi para pengrajin.
Generasi Muda Perlu Terlibat
Selain penguatan usaha, Naslindo menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan kerajinan berbasis budaya lokal.
Ia mengingatkan, persaingan dengan produk dari luar yang dijual dengan harga murah menjadi tantangan bagi keberlangsungan produk kerajinan daerah.
Karena itu, generasi muda perlu dilibatkan dalam menggali, mengembangkan, dan mengemas corak budaya lokal menjadi produk yang menarik serta sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Anak-anak muda sekarang sudah mulai asing dengan corak-corak budaya. Banyak produk dari luar yang murah. Kalau kita tidak menggali potensi yang kita punya dan membuatnya menjadi menarik, suatu saat corak budaya kita bisa hilang,” ungkapnya.
Menurut Naslindo, Dekranasda memiliki dua peran penting, yakni menjaga keberlangsungan budaya lokal dan mengembangkan nilai ekonominya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Bandara dan Hotel Diusulkan Jadi Etalase Produk Lokal
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, Naslindo mengusulkan agar produk kerajinan dan UMKM Mimika dipasarkan melalui berbagai lokasi strategis, termasuk bandara dan hotel.
Menurut dia, kedua tempat tersebut berpotensi menjadi etalase produk lokal yang mudah dijangkau wisatawan maupun pendatang tanpa harus mendatangi kantor Dekranasda atau rumah produksi.
“Bandara itu bisa dimanfaatkan. Hotel-hotel juga bisa menjadi tempat etalase, sehingga pengunjung bisa cepat membeli. Jadi tidak perlu harus ke kantor Dekranasda atau ke rumah produksi UMKM,” jelasnya.
Pemanfaatan lokasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan akses konsumen terhadap produk lokal sekaligus membuka peluang pasar baru bagi pengrajin di Mimika.
Koperasi Dinilai Buka Akses Pembiayaan
Naslindo juga mendorong pengrajin dan pelaku UMKM memperkuat kelembagaan melalui koperasi. Menurut dia, koperasi dapat menjadi wadah bersama untuk mengembangkan usaha, memperkuat kerja sama antaranggota, dan membuka peluang akses pembiayaan.
Ia menilai, ketergantungan pada dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memiliki keterbatasan. Karena itu, penguatan kelembagaan koperasi dinilai dapat membuka alternatif pembiayaan, termasuk melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM).
“Dekranasda harusnya membuat koperasi supaya nanti bisa pembiayaannya dari LPDB. Kalau hanya menunggu APBD, tentu terbatas,” katanya.
Naslindo berharap pengrajin tidak hanya menitipkan produk untuk dipasarkan, tetapi juga memiliki keterlibatan dan rasa kepemilikan terhadap usaha bersama.
Melalui pembinaan berkelanjutan, penguatan pemasaran, keterlibatan generasi muda, dan pengembangan koperasi, produk kerajinan Mimika diharapkan mampu mempertahankan identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi. (LE)




























