TIMIKA, CARTENZNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Mimika melanjutkan pengkajian cerita rakyat Suku Amungme di Distrik Kwamki Narama, Rabu (29/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya lokal agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Sebelumnya, pengkajian serupa telah dilaksanakan di Distrik Kuala Kencana. Di Kwamki Narama, pengkajian difokuskan pada penggalian cerita rakyat Suku Amungme, khususnya yang berkaitan dengan Marga Liman.
Kegiatan tersebut dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabet Cenawatin, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Papua Wilayah Kerja IV UPT Kementerian Kebudayaan, Desy Polla Usmany, serta sejumlah tokoh adat, tetua adat, dan tokoh masyarakat setempat.
Turut hadir Kepala Seksi Humas Distrik Kwamki Narama Kristin, Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika Daniel Orun, serta tim Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Papua.
Elisabet mengatakan, kegiatan di Distrik Kwamki Narama dilakukan untuk menghimpun informasi dari berbagai tokoh adat sehingga data mengenai sejarah dan cerita leluhur Suku Amungme dapat diperoleh secara lebih lengkap.
“Pada kegiatan sebelumnya di Kuala Kencana, kami telah mendengar penuturan dari tokoh-tokoh Suku Amungme. Hari ini kami hadir di Kwamki Narama karena wilayah ini juga dihuni masyarakat Suku Amungme yang memiliki pengetahuan tentang sejarah dan cerita leluhur,” ujar Elisabet.
Menurut dia, pendokumentasian cerita rakyat tidak hanya melibatkan satu atau dua marga. Berbagai marga yang memiliki keterkaitan sejarah juga perlu dilibatkan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai asal-usul, silsilah, serta nilai-nilai budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Kehadiran tim Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Papua diharapkan dapat mendukung proses pengumpulan data, verifikasi, hingga penyusunan dokumen cerita rakyat yang akurat dan komprehensif.
Elisabet menuturkan, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama. Dokumentasi yang baik dinilai penting agar kekayaan budaya Suku Amungme dapat dikenal lebih luas dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda.
“Melalui pendokumentasian, generasi muda diharapkan tidak kehilangan jati diri dan sejarah leluhurnya di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen mendukung pelestarian budaya daerah. Setelah pengkajian di Kwamki Narama, kegiatan serupa akan dilanjutkan di Distrik Mapurujaya dengan mengangkat kisah Tetua Mapuru dari Suku Kamoro.
Secara bertahap, cerita rakyat dari berbagai marga Suku Amungme dan Kamoro akan dihimpun sebagai bagian dari dokumentasi budaya Kabupaten Mimika.
“Kita tidak boleh tinggal diam. Budaya daerah lain telah terdokumentasi dengan baik. Karena itu, budaya kita juga harus diangkat, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Elisabet.
Ia juga mengajak para tetua adat dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan informasi berdasarkan fakta serta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Elisabet, keakuratan data menjadi hal penting karena berkaitan dengan silsilah, sejarah marga, dan nilai-nilai budaya yang akan diwariskan kepada generasi penerus.
“Kami berharap seluruh pihak dapat bekerja sama menghasilkan data yang sahih sehingga tersusun dokumen cerita rakyat yang benar, autentik, dan menjadi warisan budaya yang tetap lestari sepanjang masa,” katanya. (LE)
























