TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Pemerintah Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, akan menyatukan data kesehatan dari tiga puskesmas untuk mempercepat penanganan stunting dan kusta. Selama ini, data kesehatan masih tersebar di masing-masing puskesmas sehingga pemantauan di tingkat distrik belum berjalan optimal.
Langkah itu dibahas dalam rapat koordinasi yang melibatkan tiga kepala puskesmas se-Distrik Mimika Baru, kader TP PKK Distrik Mimika Baru, serta penyuluh Kementerian Agama. Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika turut dilibatkan, meski belum mengirimkan perwakilan dalam rapat tersebut.
Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, mengatakan rapat digelar karena persoalan kesehatan di lapangan membutuhkan penanganan bersama. Koordinasi itu juga merupakan bagian dari perhatian Bupati dan Wakil Bupati Mimika terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
“Tujuan rapat hari ini sebenarnya rapat koordinasi. Memang tidak masuk dalam perencanaan, tetapi karena keadaan dan ini merupakan perhatian pimpinan, Pak Bupati dan Wakil Bupati, sehingga kami melakukan rapat koordinasi dengan tiga kepala puskesmas se-Distrik Mimika Baru,” kata Merlyn saat ditemui di kantornya, Kamis (3/9/2026).
Menurut Merlyn, persoalan tidak hanya terletak pada data yang belum terkonsolidasi. Mobilitas penduduk yang tinggi juga membuat petugas kesulitan memantau pasien, termasuk mereka yang sedang menjalani pengobatan kusta.
Ia mencontohkan pasien kusta yang telah mendapat pengobatan tetapi kemudian pindah tempat tinggal sehingga sulit ditemukan saat petugas melakukan pemantauan lanjutan.
“Orang yang bersangkutan, misalnya penyakit kusta, sudah diobati satu kali. Ternyata dicari-cari kemudian di rumahnya sudah pindah. Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Keterbatasan transportasi bagi petugas kesehatan untuk menjangkau masyarakat turut menjadi kendala. Karena itu, Merlyn menilai komunikasi antara pemerintah distrik dan puskesmas perlu berjalan lebih erat.
“Kepala puskesmas itu wajib berkoordinasi dengan kepala distrik. Bukan sebagai bawahan, tetapi kita sama-sama operator pemerintah yang bekerja di level distrik,” katanya.
Deteksi Kusta Masih Terlambat
Merlyn juga menyoroti keterlambatan masyarakat mengenali gejala kusta. Menurut dia, sebagian warga masih menganggap bercak pada kulit sebagai panu sehingga pemeriksaan dan pengobatan terlambat dilakukan.
“Orang pikir panu, bercak-bercak itu panu, padahal bukan. Itu adalah kusta,” katanya.
Persoalan semakin rumit ketika kasus ditemukan pada anak usia sekolah. Pemeriksaan terhadap orang yang melakukan kontak dengan pasien tetap diperlukan untuk mencegah penularan. Namun, penanganan tersebut harus dilakukan tanpa memberikan stigma kepada anak yang sedang menjalani pengobatan.
“Di sekolah banyak anak-anak, tetapi pihak sekolah tidak bisa mengisolasi atau menyuruh satu anak memakai masker karena akan ada stigma. Tetapi risikonya bisa menularkan ke satu sekolah karena orang yang kontak,” ujar Merlyn.
Menurut dia, penanganan kasus semacam itu membutuhkan kerja sama pemerintah distrik, puskesmas, Dinas Kesehatan, dan sektor pendidikan.
Sepakati Satu Data Kesehatan
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan. Pemerintah Distrik Mimika Baru dan pihak terkait akan melakukan pemutakhiran satu data kesehatan tingkat distrik, menunjuk petugas penghubung, serta memperkuat pendampingan bersama kader.
Penguatan juga dilakukan terhadap kader puskesmas dan kader penjangkauan balita yang belum mendapatkan pengukuran. Sementara untuk kusta, pemeriksaan kontak akan ditingkatkan dan laporan kesehatan akan disampaikan secara berkala kepada pemerintah distrik.
“Kita menyepakati pemutakhiran data satu kesehatan tingkat distrik, penunjukan petugas penghubung, pendampingan bersama kader, penguatan pemeriksaan kontak kusta, serta penyampaian laporan berkala kepada distrik,” jelasnya.
Hasil rapat selanjutnya akan dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan bagi organisasi perangkat daerah teknis dalam menentukan kebijakan.
Koordinasi dengan sektor pendidikan juga akan diperkuat, terutama untuk menangani kasus kusta yang ditemukan di lingkungan sekolah tanpa menimbulkan stigma terhadap anak.
Kesehatan Masuk Prioritas Musrenbang Kampung
Pemerintah Distrik Mimika Baru juga ingin persoalan kesehatan mendapat porsi lebih besar dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kampung.
Merlyn mengatakan agenda pembangunan kampung tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Kebutuhan kesehatan masyarakat juga harus masuk dalam prioritas perencanaan.
“Kita komitmen supaya di Musrenbang nanti tidak hanya kita bicara tentang infrastruktur, tetapi benar-benar kesehatan,” tegasnya.
Sebelumnya, pemerintah distrik telah melakukan penguatan terhadap kader posyandu dan kader malaria. Namun, temuan kasus kusta membuat pemerintah distrik perlu memperluas perhatian pada penyakit yang masih menjadi persoalan di masyarakat tersebut.
“Setelah beberapa waktu lalu kita rapat untuk penguatan kader posyandu dan kader malaria, ternyata ada satu penyakit kusta ini yang bahkan lebih mengkhawatirkan,” pungkas Merlyn. (LE)
























