TIMIKA, CARTENZNEWS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mencatat 117.910 kasus positif malaria dari 1.085.347 pemeriksaan hingga pertengahan September 2026.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kabupaten Mimika, Kamaluddin, mengatakan jumlah pemeriksaan tersebut masih akan terus ditingkatkan untuk menemukan kasus malaria secara lebih dini.
“Jumlah pemeriksaan sampai pertengahan September itu 1.085.347 pemeriksaan, dengan kasus positifnya ada 117.910 orang,” ujarnya.
Menurut Kamaluddin, jumlah pemeriksaan malaria pada 2026 tersebut masih lebih rendah dibandingkan sepanjang 2025. Tahun lalu, Dinkes Mimika mencatat 1.299.815 pemeriksaan dengan 190.593 kasus positif malaria.
Adapun wilayah yang masih mencatat temuan kasus malaria cukup tinggi antara lain Wania, Kwamki Narama, dan Timika.
Warga Diminta Rutin Periksa Malaria
Kamaluddin mengimbau masyarakat Mimika untuk melakukan pemeriksaan malaria secara rutin, meskipun tidak mengalami gejala.
Ia menyebut pemeriksaan idealnya dilakukan enam hingga tujuh kali dalam setahun. Hal itu diperlukan karena malaria dapat kembali muncul dan keberadaan parasit perlu dipastikan benar-benar hilang dari tubuh.
Pemeriksaan malaria, kata dia, diberikan secara gratis melalui fasilitas pelayanan kesehatan, pos pemeriksaan, hingga sejumlah sekolah.
“Kami mengimbau masyarakat Mimika untuk melakukan pemeriksaan malaria enam sampai tujuh kali dalam setahun. Pemeriksaan itu gratis. Ada di pos-pos dan juga di sekolah,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak menolak ketika petugas kesehatan melakukan pemeriksaan malaria.
Menurutnya, semakin banyak warga yang diperiksa, semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera diberikan.
Dinkes Mimika menargetkan pemeriksaan malaria mencapai sekitar 2.075.000 pemeriksaan.
Pengobatan Harus Sampai Tuntas
Kamaluddin menjelaskan, pemeriksaan dan pengobatan hingga tuntas merupakan bagian penting dalam memutus rantai penularan malaria.
Pasalnya, manusia yang terinfeksi malaria menjadi sumber parasit yang dapat ditularkan oleh nyamuk kepada orang lain.
“Kalau banyak orang sakit malaria bisa kita temukan, kita obati sampai sembuh, parasit dalam tubuh manusia di Timika ini habis. Jadi, walaupun ada nyamuk, dia tidak bisa memindahkan malaria ke orang lain,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat yang dinyatakan positif malaria diminta mengonsumsi obat sesuai anjuran petugas kesehatan hingga selesai.
“Kami minta tolong sekali kepada masyarakat, kalau sakit malaria, minum obatnya sampai selesai,” tegas Kamaluddin.
Lindungi Diri dari Gigitan Nyamuk
Selain pemeriksaan dan pengobatan, masyarakat juga diminta melindungi diri dari gigitan nyamuk, terutama saat tidur.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain menggunakan kelambu dan obat antinyamuk serta menjaga kebersihan lingkungan.
Dinkes juga meminta warga segera menangani genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Kalau ada genangan air yang tersumbat, tolong dialirkan. Kalau ada genangan, ditimbun atau dialirkan. Kebersihan lingkungan harus dijaga,” ujarnya.
Kamaluddin menegaskan, upaya menekan kasus malaria tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan tenaga kesehatan. Partisipasi masyarakat, menurut dia, diperlukan untuk melindungi diri sendiri dan keluarga.
“Kalau kita mau menurunkan kasus malaria, masyarakat harus berpartisipasi, paling tidak untuk dirinya dan keluarganya,” pungkasnya. (LE)




























