TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Narasi miring terkait pelayanan TP-PKK dan Dekranasda Kabupaten Mimika mendapat respons keras dari Wakil Sekretaris III TP-PKK Mimika, Bertha Beanal.
Bertha tidak mempersoalkan kritik. Namun, ia meminta setiap tudingan terhadap lembaga yang selama ini bekerja melayani masyarakat disampaikan berdasarkan data, fakta dan bukti, bukan sekadar pernyataan di media massa.
Ia bahkan mempertanyakan dasar pernyataan seseorang yang disebut sebagai tokoh masyarakat yang meminta aparat penegak hukum memeriksa penggunaan anggaran TP-PKK dan Dekranasda Mimika.
“Bicara itu jelaskan dengan data dan fakta. Tokoh dari mana itu? Kami dalam kepengurusan saat ini bekerja tulus untuk masyarakat sesuai tugas dan tupoksi dan semampu kami dengan kekuatan yang ada,” tegas Bertha.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa kerja TP-PKK bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada proses panjang mulai dari perencanaan, melihat kebutuhan masyarakat, pelaksanaan, pelaporan hingga evaluasi.
Bahkan, pengurus dituntut turun langsung ke lapangan, termasuk menyambangi kampung dan wilayah pesisir.
“Ko kira gampang melayani masyarakat kah? Melayani masyarakat itu tidak bisa bicara-bicara saja. Harus dengan aksi nyata. Kalau TP-PKK Mimika tidak melayani dengan baik, saya orang pertama yang protes,” katanya.
Bertha mengaku sendiri merasakan beratnya menjalankan pelayanan tersebut. Lelah dan capek, kata dia, merupakan bagian dari pengabdian yang harus dijalani ketika sudah memilih menjadi bagian dari TP-PKK.
“Dalam pelayanan di TP-PKK saya sendiri merasakan lelah dan capeknya dalam melayani. Saya tahu cara kerja Ibu Ketua TP-PKK dan Wakil Ketua TP-PKK. Jadi jangan sok tahu dan omon-omon saja,” ujarnya.
Ia pun meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap narasi yang menggiring opini seolah-olah TP-PKK Mimika hanya duduk manis tanpa melakukan kegiatan.
Menurut Bertha, berbagai program dan aktivitas TP-PKK serta Dekranasda Mimika tetap berjalan meski dihadapkan pada keterbatasan.
Masyarakat, kata dia, juga dapat melihat aktivitas tersebut melalui kanal publikasi yang tersedia.
“Kalau mau tahu kerja TP-PKK, buka mata baik-baik dan lihat sendiri. Jangan hanya dengar cerita orang,” katanya.
Bagi Bertha, kritik seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan, bukan menjadi narasi yang justru mematahkan semangat orang-orang yang sedang bekerja di lapangan.
Ia berharap siapa pun yang benar-benar ingin melihat Mimika berkembang dapat memberikan kritik sekaligus solusi dan ikut menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebab, bagi dirinya, pelayanan kepada masyarakat bukan pekerjaan yang selesai hanya dengan berbicara.
“Walaupun capek dan lelah dalam pelayanan di TP-PKK, saya harus tetap semangat. Karena yang dilayani adalah masyarakat Papua sendiri dan masyarakat umum lainnya,” tutup Bertha. (LE)




























