Oleh Alisia Tesalonika
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
SEANDAINYA kamu berada di sebuah kamar hotel yang berlatarkan November di tahun 1945. Meskipun di dalam kamar hotel tersedia kasur yang empuk, namun telingamu tetap mendengar teriakan ketakutan dan bau mesiu. Seorang pemuda mengelus bayonet panjangnya, membayangkan darah musuh menggeletak di kakinya. Ia merasa gagah, terbius oleh “candu” bernama cinta tanah air.
Namun, hanya dalam hitungan jam, romantisme kepahlawanan itu runtuh saat mortir pertama meledak. Ia melihat teman-temannya lari tunggang langgang, mayat-mayat bergeletakan sebelum sempat mengangkat senjata, dan seorang gadis cantik yang diperkosa di tengah kekacauan.
Revolusi dalam Ceria Pendek (Cerpen) Di Medan Perang karya Trisnojuwono bukanlah parade kemenangan yang rapi, melainkan sebuah teater absurditas yang mematikan. Di Medan Perang merupakan salah satu cerpen yang menarik dan unik untuk dibaca.
Dalam cerpen ini, kita tidak sedang berhadapan dengan tokoh “Aku”. Trinojuwono sebagai pengarang nyata (real author) yang kita kenal sebagai tokoh intelektual atau penyair besar.
Sebaliknya, melalui konsep Wayne C Booth, kita bertemu dengan implied author (pengarang tersirat) —sebuah versi ideal dari diri pengarang yang “tercipta” khusus untuk menuntun pembaca memahami nilai-nilai di dalam teks ini.
Implied author ini membangun sebuah jembatan pengalaman bagi pembaca untuk menyadari bahwa teks ini bukanlah sekadar rekaman sejarah, melainkan sebuah cerpen yang menantang cara kita memandang nasionalisme dan moralitas manusia di ambang maut.
Analisis Inti
Transformasi pengarang menjadi sosok dalam teks terlihat jelas melalui pemilihan persona tokoh “Aku” sebagai strategi retoris ( teknik atau cara yang digunakan pengarang untuk membujuk, memengaruhi, dan mengarahkan emosi serta pemikiran pembaca agar sejalan dengan tujuan).
Pengarang tersirat sengaja memilih sudut pandang pemuda naif untuk membongkar mitos kepahlawanan dari dalam. Sebagai suara, tokoh “Aku” bukan sekadar narator; ia adalah instrumen kekuasaan pengarang untuk menunjukkan betapa kacaunya realitas.
Bahasa yang digunakan juga sangat kontras: antara diksi romantis seperti “candu yang paling nikmat” di awal cerita, dengan penggambaran fisik yang kasar seperti “muka berdarah-darah dipukuli”. Di sini, pengarang tersirat menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi emosi para pembaca —dari rasa bangga menuju rasa mual.
Struktur naratif yang fragmentaris, berpindah dari markas tentara ke rumah kosong yang dijarah, memperkuat tesis utama bahwa perang adalah ruang di mana identitas manusia luruh menjadi sekadar insting bertahan hidup.
Lebih jauh, strategi retoris ini menghubungkan teks dengan konteks sosial revolusi Indonesia yang sering kali disakralkan. Implied author menggugat narasi sejarah formal dengan menghadirkan tokoh si Kurus dan temannya; mereka adalah pahlawan yang menghancurkan satu pasukan musuh, namun di sisi lain adalah predator seksual yang keji.
Dengan menjajakan keberanian dan kebusukan moral dalam satu tubuh, pengarang memaksa pembaca untuk mempertanyakan ulang: siapakah sebenarnya pahlawan itu? Apakah mereka yang mati karena bendera, atau mereka yang sekadar bertahan hidup dalam kesunyian?
Di akhir Di Medan Perang terbukti bahwa pengarang yang nyata hanya titik tolak. Trisnojuwono mungkin telah tiada, namun pengarang tersirat di dalam cerpen ini tetap hidup untuk membisikkan bahwa perang tidak pernah seindah poster propaganda. Sastra, dalam hal ini, bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sebuah medan kekuasaan di mana pembaca dipaksa berhadapan dengan cermin retak kemanusiaannya sendiri.
Transformasi dari yang tadinya menjadi si pemuda yang pulang dengan rasa sepi adalah sebuah pernyataan kuat: bahwa kepahlawanan yang paling jujur mungkin bukanlah teriakan “merdeka!”, melainkan kemampuan untuk tetap merasa sedih atas kematian musuh maupun kawan di tengah rimba kebiadaban.
Teks ini menutup dirinya dengan keheningan yang menggema, mengingatkan kita bahwa di setiap medan perang, yang pertama kali gugur bukanlah raga, melainkan kepolosan jiwa.
























