Oleh Henry Wasini
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma; Putra asli Papua
PUISI Angin-Angin Laut Irian karya Diah Hadaning terbit tahun 2000. Jenis karya sastra ini sarat makna. Ia mengangkat potret getir kondisi sosial dan alam di tanah Papua. Angin-Angin Laut Irian lebih dari sekadar rangkaian kata indah.
Puisi ini adalah medium kritik sosial yang tajam terhadap perubahan lingkungan yang telah merusak keseimbangan ekosistem dan tatanan hidup masyarakat adat Papua, wilayah paling timur Indonesia.
Papua, sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam yang luar biasa besar dan keunikan budaya yang menyebar di seluruh lekuk ‘benua’ itu, menjadi latar utama yang digambarkan penyair dengan penuh keprihatinan.
Artikel Matapena, Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Volume 7 Nomor 2 Desember 2024, dalam analisisnya terhadap Angin-Angin Laut Irian menegaskan, Diah menyoroti kerusakan lingkungan yang berdampak langsung pada kondisi sosial masyarakat Papua.
Diah juga menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang kelangsungan hidup dan tradisi mereka yang mulai kehilangan jati diri.
Dalam esai ini, penulis akan mengupas lebih dalam bagaimana kondisi sosial dan alam Papua digambarkan dalam Angin-Angin Laut Irian. Analisis akan diperkaya dengan penerapan perspektif keagungan (sublime) dari Longinus, seorang kritikus sastra Yunani kuno.
Teori Longinus, yang berfokus pada elemen-elemen yang mampu membangkitkan kekaguman, ketakutan, dan emosi yang luar biasa, akan digunakan untuk memahami kedalaman dampak penggambaran penyair.
Kita akan mengeksplorasi bagaimana keagungan alam Papua yang seharusnya memukau justru terkikis oleh kerusakan, dan bagaimana hal ini memengaruhi keagungan serta identitas masyarakatnya. Melalui lensa Longinus, esai ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana puisi ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga sebuah seruan kepedulian terhadap kondisi wilayah yang mulai kehilangan identitasnya.
Kajian Teori: Puisi sebagai Kritik Sosial dan Konsep Keagungan Longinus
Menurut Kosasih (2012:97) puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan puisi sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, metrum, rima, serta penataan larik dan bait.
Lebih dari itu, puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, yang disusun dalam bentuk yang paling berkesan (Pradopo, 1995). Puisi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan kritik sosial. Sedangkan Idal (2017:2) mendefinisikan kritik sosial sebagai sindiran, kritik, atau respons terhadap kelompok atau individu tertentu terkait kerapuhan yang terjadi dalam masyarakat.
Oksinata (2010:33) menambahkan bahwa kritik sosial adalah bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan sebagai kontrol terhadap jalannya sistem sosial atau proses kemasyarakatan. Dengan demikian, Angin-Angin Laut Irian Diah dapat dipahami sebagai medium penyampaian kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan dan dampaknya pada masyarakat Papua.
Di sisi lain, konsep keagungan (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus dalam karyanya, On the Sublime (1554) menawarkan kerangka analisis yang unik. Longinus mendefinisikan keagungan sebagai sesuatu yang melampaui pemahaman biasa, mampu membangkitkan kekaguman, ketakutan, dan emosi yang kuat serta mendalam.
Keagungan ini tidak hanya terbatas pada keindahan visual, tetapi juga pada kekuatan, kebesaran, dan dampak emosional yang luar biasa. Longinus mengidentifikasi lima sumber utama keagungan.
Pertama, kemampuan membentuk gagasan besar (kekuatan pikiran). Kedua, emosi yang kuat dan bergairah. Ketiga, penggunaan majas yang tepat dan indah. Keempat, susunan kata yang mulia dan agung. Kelima, susunan kalimat yang megah dan mengesankan.
Dalam konteks puisi Diah, teori Longinus akan membantu kita memahami bagaimana penggambaran alam dan penderitaan masyarakat Papua menciptakan efek keagungan, meskipun dalam konteks kehancuran.
Kondisi Sosial dan Alam Papua dalam Puisi Angin-Angin Laut Irian
Puisi Angin-Angin Laut Irian secara gamblang menggambarkan kondisi alam Papua yang mengalami kerusakan parah, yang kemudian berimbas pada kondisi sosial masyarakatnya.
Penyair memulai puisinya dengan sapaan kepada Yan Yapo yang diinterpretasikan dalam artikel Matapena sebagai representasi masyarakat Papua, khususnya dari daerah Sentani.
Sapaan: Apa kabar lelakiku dari Sentani Yan Yapo, Yan Yapo? Kupanggil kau lewat angin-angin laut Irian membuka percakapan yang penuh keakraban namun juga tersirat kekhawatiran.
Kekhawatiran ini segera terwujud dalam bait kedua. Benarkah kini kau semakin tua tak kuat lagi menokok sagu sambil menggendong anakmu. Penggambaran ini menunjukkan penurunan kemampuan fisik dan sosial masyarakat Papua.
Aktivitas tradisional seperti menokok sagu, yang merupakan sumber pangan pokok dan bagian dari identitas budaya, kini menjadi sulit dilakukan. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan lingkungan atau kondisi yang membuat aktivitas tersebut semakin berat, bahkan mungkin karena sumber daya alam yang menipis atau tercemar.
Bait ketiga, Apa kabar perisai lan git dari Sentani bintang kejora pasang di sana di bendera bikin masalah ternyata memperkenalkan metafora “perisai langit” yang melambangkan kekuatan dan kesejahteraan masyarakat Papua.
Namun, frasa “di bendera bikin masalah ternyata” menyiratkan adanya ancaman atau gangguan terhadap kesejahteraan tersebut. Ancaman ini diperjelas pada bait keempat: Berapa lama musim kita dinodai mozaik utopia gunung datar hutan gundul debu menerpa Yamdena.
Di sini, penyair secara eksplisit menggambarkan kerusakan alam yang masif: gunung yang seharusnya megah menjadi datar, hutan yang lebat menjadi gundul, dan debu polusi menerpa wilayah seperti Yamdena.
Artikel Matapena mengaitkan kerusakan ini dengan aktivitas pertambangan yang luas di Papua, yang menyebabkan penggundulan hutan dan polusi udara. Keindahan alam Papua yang seharusnya menjadi sumber kebanggaan dan kehidupan kini tercemar.
Dampak dari kerusakan alam ini dirasakan mendalam oleh masyarakat Papua, seperti tergambar pada bait kelima dan keenam: Kau tangisi saat purnama kalam semesta tak lagi menyairkan keindahan bumimu kau banggakan dan Padaku di tanah barat duka itu terlalu berat bagi jiwa sederhana.
Masyarakat Papua meratapi hilangnya keindahan alam yang mereka banggakan. Kesedihan ini begitu mendalam hingga terasa hingga ke “tanah barat,” menunjukkan bahwa penderitaan masyarakat Papua akibat kerusakan lingkungan ini memiliki dampak yang meluas dan menjadi perhatian banyak pihak.
Puncak dari kepedihan dan kemarahan masyarakat Papua diungkapkan pada bait terakhir: Yan Yapo, Yan Yapo, lelakiku dari Sentani lalu kau marah pada angin lalu kau ‘nangis pada laut Irian gemetar kau terkapar.
Kemarahan dan kesedihan ini diekspresikan melalui personifikasi elemen alam, yaitu angin dan laut. Angin menjadi pembawa kabar kemarahan, sementara laut menjadi penampung kesedihan.
Elemen alam yang seharusnya memberikan kehidupan kini menjadi cerminan keputusasaan, ketidakberdayaan, dan frustrasi masyarakat Papua. Penutup yang dramatis ini menegaskan bahwa perubahan dan kerusakan alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan identitas dan jiwa masyarakat adat.
Aplikasi Perspektif Longinus: Keagungan yang Terkikis dan Sublime dalam Kehancuran
Penerapan teori keagungan Longinus pada Angin-Angin Laut Irian memberikan dimensi analisis yang mendalam. Longinus menekankan bahwa keagungan muncul dari sesuatu yang besar, kuat, dan mampu membangkitkan emosi yang luar biasa.
Dalam puisi ini, kita dapat melihat bagaimana keagungan alam Papua yang seharusnya menjadi sumber sublime justru digambarkan dalam keadaan terkikis.
Keagungan alam Papua yang seharusnya memukau. Papua dikenal dengan kekayaan hayati, bentang alam pegunungan yang megah, hutan tropis yang lebat, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Potensi keagungan alam ini, jika digambarkan dengan baik, akan mampu membangkitkan rasa takjub dan kekaguman yang luar biasa pada pembaca, sesuai dengan konsep sublime Longinus.
Namun, Diah justru menyajikan kontras yang menyakitkan. Penggambaran “gunung datar, hutan gundul, debu menerpa Yamdena” secara gamblang menunjukkan hilangnya keagungan alam tersebut. Ini adalah bentuk sublime.



























