MOWANEMANI, CARTENZNEWS.COM — Bupati Kabupaten Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si, Kamis (9/4) menghadiri rapat terkait klarifikasi insiden kekerasan yang berujung meninggalnya Juventus Edoway di Ruang Rapat Markas Polres Dogiyai, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah.
Rapat yang dipimpin Kepala Kepoisian Daerah Papua Tengah Kombes Pol Jermias Rontini, SIK, M.Si dihadiri juga Wakil Bupati Yuliten Anouw, SE, Asisten III Setda Dogiyai Willem Tagi, SIP, Wakil Ketua III DPRK Dogiyai Agustinus Pigai, SIP, tokoh masyarakat, pemuda, dan utusan Bamuskam.
Rapat tersebut menandai titik balik penting dalam investigasi kasus kematian Edoway, anggota Polres Dogiyai, yang memicu ketegangan berdarah di Dogiyai sejak akhir Maret lalu.
Kehadiran Rontini bersama kepala daerah menunjukkan bahwa kasus ini ditangani dengan prioritas maksimal dan pendekatan kolaboratif antara penegak hukum dan pemerintah daerah.
“Pemerintah Kabupaten Dogiyai sepenuhnya mendukung proses hukum yang dilakukan Polri. Tidak ada intervensi, tidak ada perlindungan bagi pelaku, dan tidak ada upaya menutup-nutupi fakta, siapa pun pelakunya,” ujar Bupati Tebai di Mowanemani, Dogiyai, Papua Tengah, Kamis (9/4).
Bupati Tebai menegaskan pentingnya klarifikasi untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pelaku terkait motif, kronologi, dan apakah ada pihak lain yang diduga terlibat sebagai dalang di balik aksi itu. Klarifikasi itu penting untuk memberikan kepastian bagi keluarga Almarhum Edowai.
Tebai juga meminta kepada Kapolres Dogiyai dan Kapolda Papua Tengah menghentikan operasi keamanan berlebihan yang selama ini menyasar warga sipil di Dogiyai secara kolektif.
“Kehadiran kami dalam rapat ini untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan adil, tidak hanya mengejar pelaku pembunuhan, tetapi juga membuka jalan untuk mengungkap kebenaran di balik kematian warga sipil yang menjadi korban operasi sebelumnya. Hasil rapat ini diharapkan menjamin bahwa hukum tidak tajam hanya ke satu sisi,” katanya.
Menurut Tebai, jika pelaku ditemukan agar ditahan dan proses pengadilan dilakukan secara transparan. Keadilan harus dirasakan semua pihak.
Langkah Bupati Tebai mengikuti rapat klarifikasi ini adalah bukti kepemimpinan di masa krisis. Ia menempatkan diri di garis depan untuk memastikan hukum ditegakkan demi menghentikan pertumpahan darah.
Ini adalah sinyal positif bahwa Dogiyai mulai bergerak dari fase “konflik dan kekacauan” menuju fase “penegakan hukum dan pemulihan”.
Semoga kebenaran terungkap sepenuhnya, keadilan ditegakkan bagi Edoway maupun lima warga sipil yang menjadi korban dan damai segera kembali hadir di Dogiyai. (*)



























