JAKARTA, CARTENZNEWS.COM – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lahir dengan sebuah janji politik yang menyegarkan menjadi wadah bagi politik akal sehat, anti-korupsi, toleransi, dan meritokrasi kaum muda. Namun, dinamika internal belakangan ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Kehadiran Ahmad Ali beserta gerbongnya di dalam struktur PSI alih-alih membawa energi baru, justru terasa seperti sel kanker yang perlahan mematikan sel-sel sehat dan nilai-nilai otentik yang selama ini diperjuangkan partai berlambang gajah ini.
“Jika dibiarkan tanpa tindakan radikal dari jajaran pembina dan pucuk pimpinan khususnya Joko Widodo sebagai mentor politik utama dan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI berada dalam ancaman deparpolisasi internal yang akut,” ujar Rifaiz S. Mehen
Menurut Rifaiz, ada beberapa argumen fundamental mengapa keberadaan Ahmad Ali menjadi beban sejarah bagi PSI.
1. Nihil Dampak Konsolidasi dan Disorientasi Organisasi
Sejak Ahmad Ali dan gengnya masuk ke dalam lingkaran pengambil keputusan PSI, tidak ada lompatan elektoral maupun dampak konsolidasi yang signifikan secara struktural. Konsolidasi partai membutuhkan kapasitas manajerial yang berbasis pada ideologi dan kebersamaan, sementara kehadiran kelompok ini justru membawa disorientasi. Alih-alih memperkuat infrastruktur partai hingga ke akar rumput, kehadiran mereka lebih menyerupai faksionalisme baru yang membuat mesin partai bergerak tanpa arah yang jelas.
2. Penyerapan Politik Sektarian dan Penyingkiran Kelompok Otentik
Dosa terbesar dari infiltrasi politik Ahmad Ali di PSI adalah upayanya menggeser DNA asli partai. PSI dikenal sebagai garda terdepan melawan intoleransi. Namun, Ahmad Ali justru dinilai menyerap dan membawa gaya politik sektarian yang pragmatis. Dampaknya, terjadi upaya sistematis untuk meminggirkan kelompok-kelompok otentik para kader muda, idealis, dan aktivis mula-mula yang membangun PSI dari nol dengan narasi kebangsaan. Jika kelompok otentik ini habis disingkirkan, PSI kehilangan pembeda (unique selling point) mereka di mata pemilih.
3. PSI Hanya Sebagai Sekoci Penyelamat Pribadi Ahmad Ali
Tampak jelas Ahmad Ali tidak melihat PSI sebagai instrumen perjuangan ideologis, melainkan sekadar alat atau “sekoci” politik untuk menyelamatkan posisi dan posisi tawar dirinya pasca-pergeseran lanskap politik nasional. Ketika sebuah partai politik hanya dijadikan tameng pelindung kepentingan personal seorang elit, maka kepentingan makro partai untuk lolos ambang batas parlemen atau memenangkan pemilu akan selalu dikorbankan demi syahwat politik jangka pendek sang tokoh.
4. Ketiadaan Kredibilitas dan Bayang-Bayang Masalah Hukum
Mengelola partai modern, bersih, dan digital seperti PSI membutuhkan kapasitas kepemimpinan yang adaptif, transparan, dan kredibel. Ahmad Ali dan gerbongnya dinilai tidak memiliki kapasitas mumpuni untuk mengelola organisasi partai politik dengan standar manajemen modern. Lebih jauh lagi, rekam jejak dan bayang-bayang isu hukum yang melekat pada personal Ahmad Ali menjadi bom waktu yang sangat berbahaya. Bagi partai yang menjual narasi Bersih, Berani, Kamu, mempertahankan sosok yang tidak bersih secara hukum adalah bunuh diri politik secara sukarela.
Dia menilai, sudah waktunya Jokowi dan Kaesang mengambil kendali PSI saat ini yang sedang berada di persimpangan jalan. Mereka tidak boleh tersandera oleh pragmatisme figur yang justru merusak marwah partai dari dalam. Sudah saatnya Joko Widodo selaku figur penentu arah geopolitik PSI dan Kaesang Pangarep sebagai nakhoda utama mengambil langkah tegas evaluasi total dan ganti Ahmad Ali beserta gerbongnya.
“Memotong sel kanker ini memang akan menimbulkan guncangan jangka pendek, namun itu adalah satu-satunya cara medis politik yang harus diambil jika PSI ingin selamat, kembali sehat, dan tetap dicintai oleh pemilih mudanya yang rasional menuju kontestasi politik ke depan,” tutup Rivai S. Mehen. (Dedy)























