Oleh Dr Felix Baghi SVD
Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores
SITUASI sosial dan politik di negara kita sedang berada di persimpangan. Ini bukan persimpangan yang mendatangkan harapan, melainkan yang menimbulkan kegelisahan.
Dunia yang pernah bersumpah setia pada kebebasan, kini tampak ragu pada janjinya sendiri. Demokrasi, yang dahulu dielu-elukan sebagai puncak peradaban, perlahan kehilangan jiwanya, bukan karena ia diserang dari luar, melainkan karena ia dihancurkan dari dalam.
Di depan kita, kekuasaan semakin fasih berbicara dengan bahasa kekuatan, dan semakin gagap dalam bahasa tanggung jawab. Padahal setiap kekuatan yang besar memanggul tanggung jawab yang lebih besar lagi.
Namun kini, yang kita saksikan justru pembalikan tragis: kekuasaan tanpa keheningan etis, otoritas tanpa kepekaan moral, para pemimpin yang rapuh dalam hal tanggungjawab publik.
Situasi sosial dan politik kita kembali akrab dengan logika lama, logika yang dingin dan tanpa belas kasih, di mana kekuasaan dipertahankan bukan demi keadilan, tetapi demi kelanggengannya sendiri.
Stabilitas Semu
Kita sedang mempertahankan sebuah dunia yang —seperti pernah diramalkan Machiavelli — lebih memilih stabilitas semu daripada kebenaran yang mengguncang. Dan dalam dunia seperti ini, ruang kebebasan mulai dipersempit, perlahan, sistematis, hampir tak terasa.
Suara yang berbeda dicurigai. Kritik ditafsirkan sebagai ancaman. Kebenaran dinegosiasikan. Apa yang dahulu disebut hak, kini dapat dengan mudah diperlakukan sebagai pelanggaran.
Di titik ini, kita tidak lagi hanya berhadapan dengan krisis politik, kita sedang berhadapan dengan krisis makna tentang manusia itu sendiri.
Ketika hukum kehilangan proporsinya, ketika keadilan tunduk pada kepentingan, dan ketika suara nurani dibungkam oleh ketakutan, maka yang runtuh bukan sekadar sistem, melainkan martabat bangsa.
Lebih mengkhawatirkan lagi, korupsi yang merayap diam-diam telah menggerogoti fondasi kepercayaan publik. Korupsi bukan sekadar penyimpangan administratif. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap janji bersama.
Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan kekayaan, tetapi karena hilangnya keadilan dalam pengelolaannya, karena kehancuran integritas dan moralitas dalam praktik hidup berbangsa dan bernegara.
Pertanyaan paling jujur harus diajukan, bukan kepada negara, bukan kepada institusi, tetapi kepada diri kita sendiri: Apakah kita masih memiliki keberanian untuk peduli? Ataukah kita telah terlalu lama berdamai dengan ketidakadilan hingga kehilangan kepekaan terhadapnya?
Diam, dalam situasi seperti ini, bukanlah sikap netral. Diam adalah ruang di mana ketidakadilan tumbuh tanpa perlawanan. Diam adalah bahasa paling halus dari pembiaran.
Maka ini bukan sekadar ajakan, ini adalah panggilan yang mendesak: Bangkitkan kembali keberanian untuk bersuara, bukan karena kita ingin didengar, tetapi karena kebenaran tidak boleh dibungkam
Rawat kembali kepekaan terhadap sesama, tanggungjawab terhadap alam, karena keadilan tidak pernah lahir dari ketidakpedulian. Tegakkan kembali martabat manusia, bahkan ketika dunia tampak lelah untuk memperjuangkannya.
Ujian Nurani
Sejarah tidak hanya mengingat mereka yang berkuasa, tetapi lebih dalam lagi, ia mengingat mereka yang, di tengah gelapnya zaman, memilih untuk tetap berpihak pada yang benar.
Dan hari ini, sejarah itu sedang ditulis kembali oleh pilihan-pilihan kecil dari semua kita, oleh keberanian kita untuk tidak menyerah, dan oleh kesediaan kita untuk tetap menjadi manusia berintegritas.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan politik, melainkan masa depan nurani kita sendiri.





























