Balada Penyaliban
Oleh WS Rendra
Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyerap azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
Mentari meleleh
segala menetes dari lupa
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
berilah kami bianglala!
Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi demi
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut dan
debu dan menangis pula segala
perempuan kota
Perempuan!
mengapa kau tangisi diriku
dan tiada kau tangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba
Bapa, selesailah semua!
Sumber: Ballada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra (1957)
Celana Ibu
Oleh Joko Pinurbo
Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya
membawa celana yang dijahitnya sendiri.
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.
Sumber: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi Karya Joko Pinurbo (2004)
Leiden 12/10/78
Oleh Subagio Sastrowardoyo
Mengapa selalu harus ada siksa
sebelum bisa terucap geliat nyawa
Dia yang disalib
ditusuk lambungnya dengan tombak derita
darahnya titik memurnikan sabda
Kebahagiaan melumpuhkan tenaga
berkata sebelum sama sekali bisu
Biar kujatuhkan diri dari menara
sehingga terlepas sengsara dalam
syair paling merdu
Sumber: Majalah Sastra HORISON Nomor 2 Tahun 1982
Doa
Oleh Taufik Ismail
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin.
Sumber: Tirani dan Benteng (1993)

























