• Privacy Policy
  • Redaksi
  • Login
Cartenz News
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Cartenz News
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Cartenz News
No Result
View All Result
Home Hukum
Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

Nenu Tabuni, S.Sos, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak dan Pemerhati Konflik di Tanah Papua. Foto: Istimewa

Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

Redaksi Cartenz News by Redaksi Cartenz News
April 5, 2026
in Hukum
0
766
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Nenu Tabuni, S.Sos

Penjabat Sekda Kabupaten Puncak dan Pemerhati Konflik di Tanah Papua

Baca Juga

Aparat Gabungan Amankan Ratusan Liter Miras Jenis Sopi Usai Tatamailau Menyentuh Bibir Pelabuhan Pomako

Aparat Gabungan Amankan Ratusan Liter Miras Jenis Sopi Usai Tatamailau Menyentuh Bibir Pelabuhan Pomako

April 4, 2026
Satgas Damai Cartenz Patroli di Jalur Rawan di Distrik Ilaga Guna Memastikan Aktivitas Warga Kondusif

Satgas Damai Cartenz Patroli di Jalur Rawan di Distrik Ilaga Guna Memastikan Aktivitas Warga Kondusif

April 2, 2026

GELOMBANG kekerasan yang kembali terjadi di Papua Tengah merupakan peringatan keras bahwa negara tidak boleh kalah dalam menghadapi konflik sosial yang berulang. Peristiwa pembunuhan di Kampung Kwamki Narama, Kabupaten Mimika pada Sabtu-Minggu (28-29/3 2026) serta bentrokan di Moanemani, Kabupaten Dogiyai pada Selasa (31/3) menunjukkan bahwa pola konflik lama masih terus berlangsung tanpa penyelesaian yang tuntas.

Paskah 2026 - Distrik MTJ Priska Kuum Seragam Putih

Kematian Balau Murib dan Junius Magai pada Sabtu-Minggu (28-29/3 2026) di Mimika bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pemicu mobilisasi massa dari berbagai wilayah seperti Tembagapura, Ilaga, Kabupaten Puncak, dan Timika. Situasi ini nyaris berkembang menjadi perang terbuka antar kelompok. Ini menegaskan bahwa konflik personal di Papua dapat dengan cepat berubah menjadi konflik komunal yang luas dan berbahaya.

Masalah utama bukan hanya pada konflik itu sendiri, tetapi pada lemahnya efek jera. Selama ini, banyak konflik diselesaikan melalui pendekatan damai atau adat tanpa diikuti penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku utama. Akibatnya, kekerasan terus berulang dalam pola yang sama.

Hemat penulis, sekarang sudah saatnya negara melalui aparat keamanan mengambil posisi tegas. Konflik dan perang suku tidak boleh lagi dianggap sebagai mekanisme sosial yang dapat dimaklumi. Ketika kekerasan telah menghilangkan nyawa manusia, maka itu adalah tindak pidana yang wajib diproses secara hukum.

Setiap pembunuhan berencana harus dijerat dengan Pasal 340 KUHP, sementara keterlibatan kelompok dapat dikenakan Pasal 55 dan 56 KUHP. Tidak boleh ada ruang bagi pelaku, penggerak maupun provokator untuk lolos dari jerat hukum. Penegakan hukum ini penting bukan hanya untuk menghukum, tetapi untuk menciptakan efek jera dan memutus siklus kekerasan.

Dampak Konflikn

Dampak konflik yang terjadi sangat luas, berkelidan, dan merusak. Seperti sektor pendidikan lumpuh karena sekolah ditutup, guru dan siswa mengungsi dalam ketakutan. Generasi muda kehilangan hak dasar mereka untuk belajar. Di sektor kesehatan, tenaga medis meninggalkan fasilitas pelayanan demi keselamatan. Akibatnya, masyarakat tidak mendapatkan layanan kesehatan di tengah meningkatnya risiko penyakit.

Dari sisi ekonomi, aktivitas pasar berhenti. Mama-mama Papua tidak dapat berjualan karena takut, sehingga pendapatan keluarga menurun dan risiko gizi buruk pada anak meningkat. Konflik juga melahirkan tragedi sosial yang mendalam. Setiap korban jiwa meninggalkan istri dan anak-anak yang harus menanggung beban hidup tanpa kepastian. Ketika puluhan laki-laki meninggal dalam konflik, puluhan perempuan menjadi janda dan banyak anak kehilangan masa depan.

Bahkan lebih berbahaya lagi, konflik menanamkan dendam antar generasi. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan kekerasan akan mewarisi semangat balas dendam, sehingga konflik tidak pernah benar-benar selesai. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka konflik akan menjadi sistem yang merusak kehidupan masyarakat Papua.

Karena itu, perang suku harus dihentikan. Tidak boleh ada lagi toleransi terhadap kekerasan. Setiap pelaku harus ditangkap dan diproses melalui hukum positif. Negara harus hadir dengan tegas untuk melindungi masyarakat dan memastikan keadilan ditegakkan.

Pendekatan persuasif tetap penting, dengan melibatkan lintas pihak (stakeholder) semisal tokoh adat, agama, pemuda, dan perempuan. Namun pendekatan ini harus berjalan seiring dengan ketegasan hukum. Masyarakat juga harus berhenti menyebarkan hoaks dan provokasi. Informasi yang tidak benar sering menjadi pemicu konflik yang lebih besar.

Praktik “bayar kepala” dan budaya balas dendam harus ditinggalkan. Tidak ada kemenangan dalam perang suku namun yang tetap menganga lebar dan vulgar hanyalah penderitaan. Papua Tengah membutuhkan keberanian untuk berubah. Beralih dari kekerasan menuju hukum, dari balas dendam menuju keadilan.

Kekerasan yang Berulang

Peristiwa konflik yang terjadi di Moanemani pada 31 Maret 2026 kembali menunjukkan bahwa Papua, khususnya wilayah Meepago, masih berada dalam lingkaran kekerasan yang belum terselesaikan secara mendasar. Ia seolah bergerak dalam litani penderitaan tanpa tepi.

Insiden ini bermula dari terbunuhnya seorang anggota Polres Dogiyai Bernama Bribda Juventus Eduai yang kemudian diikuti dengan respons keamanan yang berujung pada jatuhnya korban di kalangan masyarakat sipil 4 orang diantaranya Ibu Ester Pigai, Siprianus Tibakoto, Yoseph, dan Martinius Yobe serta  sejumlah warga luka-luka.

Kejadian ini bukan sekadar peristiwa kriminal biasa, melainkan cerminan dari persoalan struktural yang lebih dalam. Ada akumulasi ketegangan antara aparat dan masyarakat yang belum sepenuhnya terkelola dengan pendekatan yang humanis dan berkeadilan. Setiap insiden kekerasan selalu berpotensi memicu reaksi berantai dari satu korban menjadi banyak korban, dari satu kejadian menjadi konflik sosial yang meluas.

Ada pertanyaan yaitu mengapa pola seperti ini terus berulang? Jawaban atas pertanyaan itu dapat dilihat lebih jauh sebagai berikut. Pertama, pendekatan keamanan yang masih dominan sering kali belum diimbangi dengan pendekatan sosial, budaya, dan dialog yang kuat. Dalam banyak kasus di Papua, tindakan represif meskipun dimaksudkan untuk menjaga stabilitas justru memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara.

Kedua, lemahnya deteksi dini dan manajemen konflik di tingkat lokal. Pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat seharusnya memiliki mekanisme respons cepat untuk meredam potensi konflik sebelum berkembang menjadi kekerasan terbuka.

Ketiga, kurangnya transparansi dalam penanganan kasus. Ketika informasi simpang siur mengenai jumlah korban dan kronologi kejadian, maka ruang spekulasi dan ketidakpercayaan publik semakin melebar. Ini berbahaya bagi stabilitas jangka panjang.

Peristiwa di Moanemani seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Papua membutuhkan strategi komprehensif yang menggabungkan keamanan, kesejahteraan, dan rekonsiliasi sosial.

Negara harus hadir bukan hanya sebagai penjaga ketertiban, tetapi juga sebagai pelindung seluruh warganya tanpa kecuali. Setiap nyawa baik aparat maupun masyarakat sipil memiliki nilai yang sama dan harus dilindungi.

Jika tidak ada perubahan pendekatan yang signifikan, maka konflik seperti ini akan terus berulang, dengan korban yang terus bertambah dan luka sosial yang semakin dalam. Sudah saatnya semua pihak berhenti melihat konflik sebagai peristiwa sesaat, dan mulai memandangnya sebagai masalah sistemik yang membutuhkan solusi jangka panjang, berani, dan manusiawi.

Pesan penulis yang harus ditegaskan adalah segera menghentikan konflik kekerasan serta perang suku. Hentikan pembunuhan dan percayakan penyelesaian masalah kepada negara atau pihak aparata keamanan untuk proses sesuai hukum positif. Negara tidak boleh kalah, hukum harus ditegakkan, dan perdamaian dan solidaritas sosial di internal suku-suku orang asli Papua harus dimenangkan. Semoga!

ShareTweetShareSend
Kepala Distrik Mimika Timur Jauh Priska Kuum
Redaksi Cartenz News

Redaksi Cartenz News

Related Posts

Aparat Gabungan Amankan Ratusan Liter Miras Jenis Sopi Usai Tatamailau Menyentuh Bibir Pelabuhan Pomako
Hukum

Aparat Gabungan Amankan Ratusan Liter Miras Jenis Sopi Usai Tatamailau Menyentuh Bibir Pelabuhan Pomako

April 4, 2026
Satgas Damai Cartenz Patroli di Jalur Rawan di Distrik Ilaga Guna Memastikan Aktivitas Warga Kondusif
Hukum

Satgas Damai Cartenz Patroli di Jalur Rawan di Distrik Ilaga Guna Memastikan Aktivitas Warga Kondusif

April 2, 2026
Tim Babat Satuan Reskrim Kepolisian Resor Mimika Bekuk Pelaku yang Gasak Uang di Bagian Kasir Hotel Cendrawasih 66
Hukum

Tim Babat Satuan Reskrim Kepolisian Resor Mimika Bekuk Pelaku yang Gasak Uang di Bagian Kasir Hotel Cendrawasih 66

April 2, 2026
Perempuan Muda Asal Suku Kamoro Ditemukan Tak Bernyawa, Korban Diduga Bunuh Diri
Hukum

Perempuan Muda Asal Suku Kamoro Ditemukan Tak Bernyawa, Korban Diduga Bunuh Diri

April 2, 2026
Jenazah Junius Magai Dibakar di Kwamki Narama, Massa Serang Aparat Keamanan
Hukum

Jenazah Junius Magai Dibakar di Kwamki Narama, Massa Serang Aparat Keamanan

April 2, 2026
Kapolres Jayapura Vox Dei Jenguk Anggota Polri Bripka Fence Trisnovel Pinoa yang Sakit Menahun
Berita Utama

Kapolres Jayapura Vox Dei Jenguk Anggota Polri Bripka Fence Trisnovel Pinoa yang Sakit Menahun

March 31, 2026
Next Post
TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

20260321 Idul Fitri KPU Ketua Dete Abugau
  • Trending
  • Comments
  • Latest
KPU Mimika Tetapkan 35 Caleg  DPRD Mimika yang Peroleh Suara Terbanyak dari Enam Dapil pada Pemilu 2024

KPU Mimika Tetapkan 35 Caleg DPRD Mimika yang Peroleh Suara Terbanyak dari Enam Dapil pada Pemilu 2024

March 13, 2024
Roling Pejabat di Lingkup Pemkab Mimika Segera Dilakukan, Johannes Rettob Pastikan Tidak Ada Unsur Politik

Roling Pejabat di Lingkup Pemkab Mimika Segera Dilakukan, Johannes Rettob Pastikan Tidak Ada Unsur Politik

May 28, 2023
KPU Mimika Tetapkan 35 Calon Terpilih Anggota DPRD Mimika Periode 2024-2029

KPU Mimika Tetapkan 35 Calon Terpilih Anggota DPRD Mimika Periode 2024-2029

May 28, 2024
Screenshot 20250429 101401 Facebook

Bupati Mimika Jelaskan Alasan Belum Dilakukan Mutasi Jabatan

April 29, 2025
Penyerahan uang kepala dari Prajurit  Satgas Yonif R 600/Modang kepada  perwakilan keluarga Almarhum Bruno Amenim di rumah duka Kelurahan Bade, Distrik Edera,  Kabupaten Mappi. (FOTO: ISTIMEWA)

Penuhi Adat dan Permintaan Keluarga, Satgas Yonif R 600/Modang Berikan Uang Adat Di Atas Peti Disaksikan Warga

0
Sekretaris PMI Provinsi Papua, dr Raflus Doranggi  memukul tifa sebagai tanda menutup  kegiatan Muskab PMI Kabupaten Puncak  di Hotel Grand Mozza Timika, Papua. (Foto: Cartenz News/Yosefina)

Kembali Pimpin PMI Puncak Papua, Elpina Kogoya akan Bentuk PMR

0
Suasana pelayanan kesehatan di Puskesmas Timika Jaya Kabupaten Mimika. (Foto Yosefina/Cartenz News)

Pelayanan di Puskesmas Timika Jaya 24 Jam

0
Kepada Paus Fransiskus, Uskup Agung Merauke Utarakan Harapannya

Kepada Paus Fransiskus, Uskup Agung Merauke Utarakan Harapannya

0
Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

April 5, 2026
TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

April 5, 2026
Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

April 5, 2026
Acara Pisah Sambut di Kodam Cenderawasih Berlangsung Hangat, Febriel: Capaian yang Dirintis Pejabat Sebelumnya Jadi Pijakan

Acara Pisah Sambut di Kodam Cenderawasih Berlangsung Hangat, Febriel: Capaian yang Dirintis Pejabat Sebelumnya Jadi Pijakan

April 4, 2026

Recent News

Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

Dua Kapal Motor Berpenumpang 28 Orang Kehabisan BBM di Perairan Pasir Hitam Timika, SAR Gabungan Lakukan Pertolongan

April 5, 2026
TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, dan Masyarakat Gotong Royong Bersihkan Pasar Tiom

April 5, 2026
Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

Perang Suku di Papua Tengah dan Posisi Negara

April 5, 2026
Acara Pisah Sambut di Kodam Cenderawasih Berlangsung Hangat, Febriel: Capaian yang Dirintis Pejabat Sebelumnya Jadi Pijakan

Acara Pisah Sambut di Kodam Cenderawasih Berlangsung Hangat, Febriel: Capaian yang Dirintis Pejabat Sebelumnya Jadi Pijakan

April 4, 2026
20260325
Cartenz News

Follow Us

Rubrik

  • Berita Utama
  • Editorial
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Pariwisata
  • Politik
  • Sosial dan Budaya
  • Sosok
  • Teknologi
20260321 Idul Fitri Keluarga Dete Abugau & Adolina Magal
  • Privacy Policy
  • Redaksi

© 2022 Cartenz News

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Pariwara
  • Politik
  • Sosok
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Sosial dan Budaya

© 2022 Cartenz News