TIMIKA, CARTENZNEWS.COM — Yayasan Binterbusih Bina Teruna Bumi Cenderawasih menggelar Temu Alumni V se-Papua Raya Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan bedah buku di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Persaudaraan Sejati Menembus Gunung-Gunung, Lembah-Lembah dan Pesisir Pantai Menuju Papua yang Damai, Adil dan Sejahtera.”
Temu alumni ini dihadiri Bupati Mimika Johannes Rettob, Bupati Deiyai Melkianus Mote, Pj Sekda Puncak Jaya Yubelina Enumbi, sejumlah anggota DPR se-Papua Raya, Ketua YPMAK Leonardus Tumuka, Ketua Lemasko Gregorius Okoare, Ketua Lemasa Menuel Jhon Magal, para tokoh masyarakat, serta alumni binaan Yayasan Binterbusih.
Bagi Johannes Rettob, kegiatan tersebut bukan sekadar menjadi ajang pertemuan para alumni, tetapi juga momentum untuk mengenang perjalanan panjang, perjuangan, serta kontribusi Yayasan Binterbusih dalam membina generasi muda Papua.
Rettob mengapresiasi karya yang dituangkan dalam buku yang dibedah dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, buku itu menjadi dokumentasi penting mengenai perjalanan dan proses panjang selama 38 tahun Yayasan Binterbusih berkarya.
“Saya mengapresiasi karya ini karena di dalamnya ada cerita tentang perjalanan, perjuangan, dan proses panjang selama 38 tahun berkarya,” kata Rettob.
Ia menilai dokumentasi mengenai perjalanan tersebut penting untuk diketahui generasi muda. Dengan demikian, generasi penerus tidak hanya melihat keberhasilan yang telah dicapai, tetapi juga memahami proses dan perjuangan yang berada di balik keberhasilan tersebut.
“Menurut saya, hal-hal seperti ini penting untuk diketahui oleh generasi muda agar mereka tidak hanya melihat hasil, tetapi juga memahami perjuangan di balik sebuah keberhasilan,” ujarnya.
Dorong Buku Dikembangkan ke Versi Digital
Selain memberikan apresiasi, Rettob juga menyampaikan sejumlah masukan terhadap buku tersebut. Ia mendorong adanya penyempurnaan isi, termasuk memastikan kembali nama-nama yang tercantum di dalamnya.
Ia juga menyarankan agar buku dilengkapi kata pengantar dari sejumlah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan Yayasan Binterbusih.
Menurut Rettob, buku tersebut juga perlu dikembangkan dalam bentuk elektronik agar dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, terutama generasi muda Papua.
“Semoga buku ini bukan hanya menjadi cerita perjalanan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi dan pegangan bagi generasi muda Papua untuk terus berkarya dan berjuang,” harapnya.
Melalui temu alumni tersebut, semangat persaudaraan yang menjadi tema utama kegiatan diharapkan terus terpelihara di tengah keberagaman Papua.
Pertemuan para alumni dari berbagai daerah di Papua Raya juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antargenerasi sekaligus mendorong kontribusi bersama bagi terwujudnya Papua yang damai, adil, dan sejahtera.

























